Sengketa Lahan Desa Tiberias Semakin Memburuk, Tim Acta Diurna Dan Depot Seni Putuskan Turun Lapangan

Foto bersama di antara Tim BKM Persma Acta Diurna dan Depot Seni Fispol Unsrat bersama dengan segenap warga desa Tiberias. (Gambar sengaja dikaburkan demi kepentingan privasi narasumber. (fto:ist))

Bolaang Mongondow, KomunikaSulut.Com – Permasalahan sengketa lahan (Reforma Agraria) antara masyarakat adat setempat dan PT. Melisa Sejahtera di desa Tiberias, Kecamatan Poigar, Kabupaten Bolaang Mongondow, yang semakin memburuk. Membuat Tim Biro Kegiatan Mahasiswa (BKM) Pers Mahasiswa (Persma) Acta Diurna dan Depot Seni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fispol) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, tergerak untuk datang mengunjungi desa tersebut pada Jumat (12/5/2017).

“Alasan kami ingin datang langsung mengunjungi Desa Tiberias dikarenakan berita yang beredar bahwa kondisi warga sekarang sudah sangat memprihatinkan. Tindakan represif dan semena-mena dari pihak oknum aparat Kepolisian dan TNI sudah tidak manusiawi. Atas dasar itu kami ingin meninjau kondisi warga di tempat, sembari ingin berdiskusi singkat mengenai kejadian sebenarnya yang terjadi di sana,” ujar salah seorang anggota BKM Pers Mahasiswa Acta Diurna yang telah berkesempatan datang di desa Tiberias.

Keberangkatan BKM Persma Acta Diurna dan Depot Seni yang berjumlah 6 orang dari Kota Manado yang menempuh jarak kurang lebih 198,5 kilometer dan waktu yang ditempuh sekitar 3 jam untuk sampai di sana. Sebelum sampai di desa Tiberias, Tim bertemu dengan seorang laki-laki yang mengaku salah seorang warga Tiberias. Dia mengatakan bahwa dia sedang dalam pelarian oleh karena sedang dikejar-kejar Polisi dan TNI untuk dimasukan ke dalam penjara dengan alasan yang tidak jelas.

“Beberapa hari ini, saya bersama warga yang lain sedang dicari dan ingin ditangkap oleh Polisi. Oleh karena itu, saya sedang dalam pelarian. Warga lain ada yang lari ke hutan dan ada yang lari ke laut,” jelas warga Tiberias yang tidak ingin disebutkan namanya.

Setelah pertemuan itu, Tim melanjutkan perjalanan hingga sampai di desa Tiberias. Sesampainya di sana, Tim langsung disambut dengan baik oleh warga setempat. Tampak, mimik wajah yang ketakutan, putus asa, namun masih penuh harapan, tercermin dari raut wajah mereka. Ada sekitar 50 orang warga yang datang menyambut dan berkumpul bersama Tim dan mayoritasnya adalah perempuan.

Setelah Tim memulai percakapan dengan salah satu warga di tempat yang tidak ingin disebutkan namanya, dia menjelaskan betapa putus asanya mereka menghadapi situasi di desa mereka saat ini.

“Kami sudah putus asa dengan masalah yang sedang kami hadapi. Ada lebih dari 60 rumah warga yang telah dirusak dan dibakar. Begitupun dengan hasil pertanian jagung dan kacang kami di lahan sekitar 1 hektar, telah dirusak,” ujar dia.

18555976_1905837103029576_7169786971613297943_n 18519877_1905837126362907_4217973459124576177_n 18556059_1905837079696245_3094035221171874878_n

Selain itu, salah seorang warga yang bernama Yoscar Lambari turut memberikan keterangan terkait situasi di desa Tiberias beberapa hari belakangan ini.

“Tanggal dua Mei yang kami peringati sebagai Hardiknas, malah menjadi hari bersejarah bagi kami. Suara tembakan terdengar ramai dikampung kami, warga di tangkap secara besar besaran. Gas air mata di lemparkan ke desa kami sehingga menyebabkan anak-anak yang berusia sekitar 4 sampai 5 tahun mengalami sesak nafas. Kami seperti teroris saja dimata aparat Kepolisian dan TNI. Tak kurang dari 30 orang warga ditangkap secara paksa dari dalam rumah. Lalu pada tanggal 12 Mei, tersisah 18 orang yang masih di penjara dan di antaranya adalah Abner Patras yang menjadi motor penggerak di desa Tiberias,” jelas Yoscar.

Terkait itu, warga menjelaskan bahwa penangkapan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian dan TNI tidak disertai surat penangkapan. Nanti dua hari setelah ditahan barulah surat tersebut diterima oleh keluarga.

Adapun juga, warga menambahkan mengenai situasi saat ini di desa Tiberias, bahwa bentrok yang sedang terjadi saat ini hanyalah melibatkan antara kelompok masyarakat yang pro dan kontra dengan PT. Melisa Sejahtera. Sedangkan pihak aparat yang dilibatkan di dalam permasalahan sengketa lahan ini, yaitu dari Polres Bolmong dan Koramil 10 Poigar.

Pada akhirnya, warga Tiberias dengan berat hati menyampaikan kepada Tim Acta Diurna dan Depot Seni bahwa setelah sekian lama situasi ini berlangsung, tidak ada satupun pihak Pemerintah maupun para Wakil Rakyat yang tampak perduli dengan kondisi mereka.

Tidak ada dari pihak Dewan dan Pemerintah setempat yang mau datang mengunjungi warga disini dan memperhatikan betapa susahnya kondisi yang kami hadapi saat ini,” tandas warga Tiberias dengan nada putus asa.

Tim BKM Persma Acta Diurna dan Depot Seni Fispol Unsrat beranjak dari desa Tiberias pada pukul 18.00 WITA, dengan membawa segenap informasi dan data yang nantinya akan diperjuangkan bersama-sama masyarakat tertindas di desa tersebut. (rezkykumaat)