Bukanlah ‘Tamat’ Jika Mahasiswa Belum Ikut KKT-115 Unsrat

Koordinator KKT Unsrat, Dr. Rignolda Djamaluddin, M.Sc.

Manado, KomunikaSulut – Panitia penyelenggara kegiatan Kuliah Kerja Terpadu (KKT) angkatan 115 Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, telah resmi mengumumkan data para mahasiswa yang tidak bisa mengikuti kegiatan KKT yang dikarenakan tidak memenuhi salah satu syarat untuk menjadi peserta KKT, yaitu mencapai 110 SKS. Pengumuman tersebut terlampirkan di papan pengumuman yang berada di depan pintu masuk Gedung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unsrat pada Kamis (22/6/2017).

Berdasarkan pantauan pewarta KomunikaSulut di tempat, sejak pengumuman itu dilampirkan LPPM Unsrat langsung dipenuhi oleh ratusan mahasiswa-mahasiswi yang ingin melakukan klarifikasi, konsultasi, dan tidak sedikit yang datang untuk mengeluhkan kondisi mereka yang sudah tidak bisa mengikuti KKT dikarenakan jumlah kontrak SKS mereka yang tidak mencukupi jumlah 110 setelah dikurangi jumlah SKS dari mata kuliah yang tidak lulus, sehingga meminta untuk dicarikan solusinya.  Demikian dalam hal ini, Koordinator KKT Unsrat, Dr. Rignolda Djamaluddin, M.Sc, dan segenap panitia KKT yang berada di LPPM sangat menyambut dengan baik para mahasiswa yang datang untuk melakukan “hearing” atau diskusi perihal pengumuman itu.

Koordinator KKT Unsrat, Dr. Rignolda Djamaluddin, M.Sc, atau yang sering akrab disapa Mner Oda, dalam kesempatannya dengan pewarta KomunikaSulut, mengatakan bahwa ada beberapa mahasiswa yang datang membujuk dan mengeluarkan argumen kalau mereka yang tidak memenuhi syarat 110 SKS mungkin masih bisa dibuat pengecualian dan bisa diatur lagi untuk menjadi peserta KKT, seperti halnya pada beberapa kasus yang pernah terjadi di KKT yang sebelumnya. Perihal tersebut, pihak panitia memang menyediakan waktu untuk menjelaskan hal-hal seperti ini, tapi dari Mner Oda sendiri menganggap bahasa seperti itu tidak bisa dipertanggungjawabkan dan tidak bisa diterima.

“Pada saat ini kami tidak bisa mengelak bahwa masih ada mahasiswa yang mengatakan, ‘Yang kami dengar kwa mner masih boleh ator, masih boleh pigi pa mner,’ dan ada juga yang beranggapan, ‘Kan KKT-109 boleh kwa mner, kita angkatan 2011 so nda lama D.O.’ Kalau dari saya tidak boleh seperti itu. Saya memang menyediakan waktu untuk menjelaskan hal seperti ini, tapi kalau bahasa yang seperti itu sudah tidak bisa karena tidak dapat dipertanggungjawabkan,” lugas Mner Oda.

Pada KKT-112 Unsrat sebelumnya, lanjut Mner Oda, memang ada ditemukan dua persoalan. Yang pertama, ada mahasiswa yang lolos jadi peserta KKT dengan SKS yang tidak mencapai jumlah 110, dan kedua, ada mahasiswa yang bahkan tidak mengkontrak mata kuliah KKN tapi bisa ikut jadi peserta. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan panitia, bahwa ada pelanggaran akademik yang terjadi, maka kami memberi hukuman kepada para mahasiswa tersebut dengan cara nilai mereka tidak bisa dimasukan.

Berdasarkan pelajaran yang kami dapat dari KKT-112, maka pada KKT-115 Unsrat kami akan mencoba meminimalisir bahkan meniadakan pelanggaran-pelanggaran yang pernah terjadi pada KKT yang sebelumnya. Jadi, tidak boleh ikut KKT jika belum sampai 110 SKS dan belum kontrak mata kuliah KKN. Itulah pesan paling penting dari saya.

Walaupun, yang terjadi sekarang ini banyak mahasiswa yang beranggapan bahwa dia sudah lolos menjadi peserta KKT jika sudah bisa melakukan registrasi online dan mendaftar di LPPM. Di dalam pembekalan kan saya selalu ingatkan bagaimana mekanisme pendaftaran dan syarat jadi peserta KKT. Alasan syarat 110 SKS diturunkan pada batas angka 90 selama sesi registrasi, dikarenakan masih banyak nilai akhir semester mahasiswa Unsrat yang belum masuk/yudisium. Nanti pada tanggal 20 Juni 2017 barulah syarat 110 SKS diberlakukan dan pada saat itu kami akan lakukan proses seleksi mahasiswa yang akan menjadi peserta KKT. Saya juga sering ingatkan kepada mahasiswa calon peserta KKT di sela-sela pembekalan untuk selalu mengecek jumlah SKS yang lulus dan memberitahukan bagaimana cara menghitungnya, yaitu SKS dari mata kuliah yang luluslah yang akan dihitung sampai terakumulasi menjadi 110 SKS. Penetapan syarat 110 SKS sendiri, pihak panitia mengambil landasan pada Keputusan Rektor No. 1 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Akademik di Unsrat. Yang mana di dalam salah satu pasalnya menyebutkan tentang syarat menjadi peserta KKT adalah sudah mencapai 110 SKS (cat: seluruh mata kuliah yang dikontrak telah lulus).

Untuk proses seleksi peserta KKT sendiri, pihak Pusat Teknologi Informasi (PTI) Unsratlah yang berwenang menangani hal itu. Bahkan merekalah yang memegang wewenang sejak dari awal proses registrasi online. Sedangkan pihak LPPM hanya bertindak sebagai pengguna data, yang mana kami menilai dulu apakah data tersebut sudah bisa digunakan atau tidak. Karena faktanya, sampai tadi malam kami mendapati ada mekanisme dari PTI yang kami rasa tidak benar berdasarkan aturan akademik Unsrat dan barulah tadi pagi data dari para mahasiswa yang tidak bisa jadi peserta KKT kami umumkan. Jadi untuk sekarang ini, kami panitia akan terus melakukan pengecekan kembali jika mungkin masih ada kekurangan dari fungsi PTI dalam menyeleksi mahasiswa calon peserta KKT. Karena menurut kami, bisa saja ada nilai mahasiswa yang belum terupdate ataupun PTI salah menghitung jumlah SKS mahasiswa calon peserta KKT. Untuk itu kedepannya pihak panitia akan terus berkoordinasi dengan bagian akademik Unsrat sampai akhirnya jumlah resmi mahasiswa yang terseleksi dari KKT-115 Unsrat diumumkan.

Pada akhirnya, kami dari pihak panitia sangat “respect” dengan semangat teman-teman mahasiswa untuk membawa nama institusi Unsrat beserta almamater ini di tengah masyarakat dan kami bisa merasakan apa yang dirasakan teman-teman. Oleh karena itu saya pesankan jika kalian belum bisa ikut KKT-115 Unsrat, itu bukanlah akhir dari segalanya atau tamat. Tapi marilah kita ambil pelajaran dari proses ini. Jangan sampai semangat teman-teman jadi kendor untuk terus berproses di dalam dunia pendidikan Unsrat. Justru dengan teman-teman menghormati peraturan akademik yang ada, maka kita secara tidak langsung telah ikut serta bersama setiap komponen yang ada di universitas ini untuk membuat Unsrat menjadi lebih baik. Kedepannya dari pihak panitia akan terus konsisten dengan aturan ini dan akan membangun komunikasi dengan mahasiswa. Karena sekali lagi, kami sangat memahami perasaan dari teman-teman mahasiswa dan kami percaya kalian sudah sangat dewasa untuk memahami ini semua. Untuk kedepannya, tetaplah semangat!” tandas Mner Oda.

Tahapan selanjutnya dari proses seleksi calon peserta KKT-115 Unsrat adalah pembagian posko dan pertemuan dengan Dosen Pengawas Lapangan (DPL) yang sudah terlatih pada tanggal 3 July 2017. Hal ini ditetapkan panitia berdasarkan jadwal tahapan pelaksanaan KKT-115 Unsrat, dengan pertimbangkan bahwasanya minggu terakhir di bulan Juni merupakan masa libur Lebaran bagi umat Muslim. Hal ini juga yang mendasari keputusan panitia KKT mengenai kenapa proses registrasi dan pembekalan tidak dilakukan setelah tanggal 20 Juni 2017, setelah masuknya semua nilai akhir semester genap (Yudisium) dan peserta KKT telah resmi ditetapkan, sehingga tidak perlu lagi ada tahapan seleksi. Demikian juga disela libur panjang di akhir bulan Juni ini, pihak panitia KKT akan terus bekerja di gedung LPPM Unsrat, dalam rangka “mensetting” segenap rangkaian kegiatan KKT-115 Unsrat agar supaya penyelenggaraannya bisa tepat waktu dan nantinya tidak bentrok dengan jadwal perkuliahan. Pada kesempatan itu juga, pihak panitia akan menerima segala keluhan dan permasalahan para mahasiswa calon peserta KKT-115 Unsrat, terkait kepentingan KKT.

Jumlah mahasiswa yang tidak bisa menjadi peserta KKT-115 Unsrat, sementara ini sebanyak 789 orang sebagaimana yang terlampir di papan pengumuman. Para mahasiswa-mahasiswi tersebut, terdiri dari kesebelas fakultas yang ada di Unsrat. (rezkykumaat)