The Yudhoyono Institute Sebagai Langkah Cerdas SBY

Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono. (fto:ist)

KomunikaSulut.Com – Peluncuran The Yudhoyono Institute (TYI), di XXI Ballroom The Djakarta Theater, Thamrin, Jakarta pusat, Kamis, (10/8/2017), merupakan langkah politik cerdas yang diciptakan oleh Susilo Bambang Yudhoyono bagi Agus Harimurti Yudhoyono. Langkah ini seperti menjadi kebangkitan bagi Poros Cikeas setelah kalah dalam dalam Pilkada Jakarta Februari 2017 lalu. Kebangkitan tersebut ditandai dengan menempatkan langsung Agus Harimurti Yudhoyono sebagai Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute.

The Yudhoyono Institute dapat menjadi alat personal branding bagi AHY.  Dari segi kognitif, AHY diharapkan memperoleh citra sebagai seorang akademik ataupun seorang yang cerdas. Hal ini tidak dapat dipungkiri, karena pada dasarnya sebuah lembaga kajian tentunya akan bersentuhan dengan riset-riset yang bersifat ilmiah. Apalagi, The Yudhoyono Institute berfokus pada kajian tentang permasalahan bangsa, khususnya terkait dengan isu-isu Liberty, Prosperity dan Security. Bukan hanya pada segi kognitif saja, pembentukan branding personal pada diri AHY juga menyasar pada segi afektif dan konatif. Ini ditunjukkan oleh AHY ke publik dengan jiwa yang rendah hati mengunjungi Presiden Jokowi dengan penampilannya yang berwibawa.

Pertemuan dengan Presiden Jokowi menjadi momentum yang sangat tepat dalam membangun image AHY maupun The Yudhoyono Institute. AHY seakan menjadi sosok yang mampu mendinginkan situasi politik nasional, antara pihak Istana dan Cikeas yang sempat memanas. Namun, di sisi lain kehadiran AHY tanpa didampingi oleh kader Partai Demokrat, seakan menunjukkan ke publik bahwa baik secara personal maupun The Yudhoyono Institute bukanlah representasi dari kepentingan politik Partai Demokrat.

Kesan pemisahan diri ini dapat terlihat pula pada simbol warna pakaian yang digunakan dalam peluncuran The Yudhoyono Institute. Penggunaan pakaian warna merah sebagai simbol dari The Yudhoyono Institute, seperti memberikan makna bahwa AHY mencoba “menjauhkan” diri dari lembaga yang dipimpinnya sebagai representasi dari Partai Demokrat yang image-nya sudah jauh terbangun sebelumnya dengan simbol warna biru.

The Yudhoyono Institute secara tiba-tiba menjadi sorotan media setelah kunjungan AHY ke Istana. Di sini terlihat kembali langkah cerdas yang diambil terkait strategi komunikasi yang efektif. Pihak Cikeas tentunya sangat paham betul bahwa untuk mengundang seorang presiden dalam sebuah acara yang hanya berselang beberapa jam pelaksanaannya pasti merupakan sebuah hal yang sangat tidak mungkin, karena mengingat jadwal presiden yang sangat padat. Tetapi, hal inilah yang dimanfaatkan secara baik untuk mendapatkan perhatian publik melalui media massa yang tidak henti-hentinya menjadikan peristiwa tersebut sebagai headline.

Namun, terlepas dari semua pro dan kontra yang pasti akan berkembang dalam ruang politik nantinya. Sebuah kredit positif perlu diberikan kepada seorang Agus Harimurti Yudhoyono beserta The Yudhoyono Institute, yang diklaim sebagai sebuah lembaga independen non-politik praktis. Setidaknya, ini merupakan investasi politik positif dari salah satu dari sekian banyak generasi muda dalam membangun bangsa ke depan.  (Litbang KomunikaSulut.Com)