Polemik di Bawah Jembatan Soekarno

Keberadaan sejumlah rumah di bawah kolong Jembatan Soekarno, Jl. Boulevard 2, Manado, yang saat ini menjadi kontroversi di masyarakat Bumi Nyiur Melambai. (fto:ist)

Manado, KomunikaSulut – Jembatan Soekarno di Jl. Boulevard 2, Manado, yang terhitung telah berdiri selama 2 tahun 6 bulan di Kota Nyiur Melambai sejak diresmikannya pada bulan Mei 2015, terkesan belum digunakan sebagaimana mestinya. Sejumlah rumah non permanen yang berdiri di bawah kolong Jembatan Soekarno banyak dikritik dan dipertanyakan oleh masyarakat Manado.

Dalam postingan akun Facebook Hende Werung di Grup Manguni Team 123/Tetengkoren Berguna, Kamis (17/11/2017), dia mengkritik keberadaan rumah-rumah di bawah kolong Jembatan Soekarno dan mempertanyakan kebijakan pemerintah provinsi maupun pemerintah kota perihal ini.

“Buat Pemprov/Pemkot Kota Manado tolong diperhatikan di bawah Jembatan Sukarno, sudah menjamur membangun rumah dibawah jembatan dan sudah merusak keindahan kota. Apakah ini Izin dari pemprov/pemkot atau membangun rumah tanpa izin pemprov/pemkot? Harus diselidiki, nanti setelah di gusur bermasalah lagi. Tolong di telusuri demi keindahan kota,” ucapnya.

Postingan yang dimasukan di grup dengan total anggota saat ini berjumlah 369.901 orang tersebut, sontak mendapat berbagai reaksi yang pro dan kontra dari para penghuni grup. Berikut sejumlah postingan komentar para anggota Grup Manguni Team 123/Tetengkoren Berguna, menanggapi polemik di bawah Jembatan Soekarno Manado:

Priska Polii: Kalau urusan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia, itu urusan presiden. Mar kalo ini masalah cuma di pemerintah daerah. Berarti pemda yang bertanggung jawab dan torang masyarakat Manado nda terima torang pe ikon jembatan Sukarno so segagah itu di bangun, kong di bawah ada tampa apa stow.

Jemmy Tombeng: Harus dibongkar demi keindahan Kota Manado.

Adiane Merlin Rory: Membenahi Kota Manado bukan harus mengkumuhkan Kota Manado. Sekarang bisa dibilang sementara, tapi lama-lama akan jadi untuk selamanya. Masih ada tempat lain bukan dikolong jembatan. Bagimana mo jadi kota wisata kalo ada pemandangan seperti ini.

Vernando Watung: Kalo so ja timbul dampak negatif baru pemerintah mo tertipkan.

Junior Sumilat: Pada intinya kita jangan anarkis dan negatif thingking, karena dorang juga cari makan. Kita telusuri dulu, karena ada asap ada apinya. Kenapa jadi bagitu tentu ada asalnya.

Ancyss Gumolung: Butul bro, mar tu bagini musti lebih cepat bertindak jangan lebih banyak. Takutnya sebentar kalo mo gusur pasti akan ada gesekan kalo massa mereka sudah banyak. Mereka kan penjual-penjual yang datang dan tidak kembali ke daerah asal mereka. Intinya jangan ada pembiaran.

Diketahui, rumah-rumah yang berada di bawah Jembatan Soekarno sejak tahun 2016 tersebut ditempati para pedagang penjual ayam, bebek, dan kambing, yang direlokasi oleh pemerintah daerah karena Pasar Bersehati yang sebelumnya mereka diami sementara direnovasi.

Disadur dari finance.detik.com, proyek pembangunan Jembatan Soekarno sempat terbengkalai selama 12 tahun sejak dicanangkan tahun 2003 pada masa pemerintahan Presiden kelima RI, Megawati Soekarno Putri. Dibangun menggunakan dana APBN sebesar Rp 300, 28 Milyar, dengan panjang 1.127 meter dan lebar 17 meter, tentunya diharapkan oleh seluruh masyarakat Sulut –terlebih khusus Manado– Jembatan Soekarno bisa menjadi ikon dan destinasi penunjang pariwisata daerah. Setelah menunggu selama 12 tahun hingga akhirnya diresmikan, masyarakat tentunya menginginkan fasilitas publik ini bisa digunakan sebagaimana mestinya. (RE)