Swara Parangpuan Sulut Kampanyekan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Temu media antara Swara Parangpuan Sulut dan sejumlah awak pers di AXM Cafe, Sabtu (25/11/2017).

Manado, KomunikaSulut – Swara Parangpuan Sulut kampanyekan Hari Anti Kekerasan Perempuan, Sabtu (25/11/2017). Kampanye akan berlangsung selama 16 hari dengan dirangkaikan dalam bentuk turun kejalan membagikan brosur, penandatanganan petisi, dan temu media.

Kepada KomunikaSulut, Koordinator Kajian dan Advokasi Swara Parangpuan Sulut, Nurhasana, menjelaskan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan di Sulut tahun 2017 menjadi perhatian utama dalam kampanye ini.

“Kekerasan terhadap perempuan bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja. Oleh karena itu Swara Parangpuan hadir untuk berusaha bagaimana caranya bisa memberikan perlindungan kepada para korban. Ada berbagai program kerja yang sedang dijalankan, seperti halnya pendampingan kasus, sosialisasi kebijakan, pendidikan kritis, dan pengadaan posko pengaduan pelayanan perempuan korban kekerasan di Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan. Jika hal itu berhasil, maka kita akan mulai tularkan ke tempat-tempat lain,” paparnya.

“Saat ini kendala-kendala yang di hadapi oleh Swara Parangpuan untuk melakukan tindakan advokasi adalah kurangnya biaya dan sumber daya manusia untuk melakukan penanganan penuh bagi setiap korban. Disini kami juga mengharapkan peran pemerintah dalam menfasilitasi segala hal penunjang penanganan kasus-kasus seperti ini. Karena bagi Swara Parangpuan, setiap 1 kasus merupakan hal penting karena sudah ada 1 korban,” tambahnya.

Dalam kampanye Swara Parangpuan Sulut, mereka juga mendesak pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan DPR RI untuk segera mensahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS). Karena hal tersebut bisa menjadi payung hukum dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan yang ada di Nusantara.

Adapun, Swara Parangpuan Sulut menyatakan sikap dalam petisi yang disebarkan untuk kampanye memperingati Hari Anti Kekerasan Perempuan. Materinya sebagai berikut:

  • Bahwa setiap orang berhak mendapatkan rasa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Bahwa setiap bentuk kekerasan seksual merupakan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan, bentuk diskriminasi gender, dan pelanggaran hak asasi manusia yang harus dihapus;
  • Bahwa korban kekerasan seksual yang kebanyakan adalah perempuan, anak, dan kelompok rentan lainnya, karena relasi gender yang timpang harus mendapat perlindungan dari negara agar tidak terjadi keberulangan dan terbebas dari setiap bentuk kekerasan seksual.
  • Bahwa bentuk dan kuantitas kasus kekerasan seksual semakin meningkat dan berkembang. Namun, sistem hukum Indonesia belum secara sistematis dan menyeluruh mampu mencegah, melindungi, memberdayakan, dan memulihkan korban serta menumbuhkan pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk menghapuskan kekerasan seksual.

Bagi masyarakat yang memiliki masalah terkait dan membutuhkan pendampingan oleh Swara Parangpuan Sulut, silahkan menghubungi kontak berikut:

Nomor telepon: 081382623353 (Koordinator Kajian dan Advokasi Swara Parangpuan Sulut, Nurhasana);
E-m@il: swaraparangpuansulut@hotmail.com;
Alamat: Jl. Pogidon Raya, No. 108, Ling. 2, Kel. Mahawu, Kec. Tuminting, Kota Manado; (RE)