“Metanarasi,” Komunitas Penggerak Literasi di Manado

Manado, KomunikaSulut – Kurangnya minat para pemuda-pemudi untuk menyentuh dunia literasi di era milenial saat ini, membuat sejumlah mahasiswa-mahasiswi yang berasal dari beberapa perguruan tinggi di Sulut untuk melakukan suatu gerakan inisiatif dalam membangkitkan lagi budaya literasi di Kota “Tinutuan” Manado. Dengan alasan itupun, Komunitas Metanarasi berdiri.

Kepada KomunikaSulut, Koordinator Komunitas Metanarasi Manado, Rizky Faiz Kinontoa, memaparkan latar belakang dan tujuan spesifik dibentuknya komunitas tersebut.

“Komunitas Metanarasi hadir untuk berupaya membangkitkan lagi budaya literasi di Manado. Hal ini melihat dari kemunduran yang terjadi pada ruang-ruang generasi muda di Manado. Berbagai komunitas yang ada sudah mulai pudar eksistensinya karena efek dari melemahnya budaya literasi. Generasi muda saat ini mudah terhegemoni  dalam bentuk kehidupan yang tergerus arus perkembangan zaman –tanpa menyadari apa yang terjadi,” ujarnya.

Visi dan misi Metanarasi, lanjut Faiz, untuk menjaga dan menghidupkan tradisi intelektual di Manado, dengan sasarannya adalah para generasi muda. Sampai saat ini Metanarasi sudah mengadakan 12 episode/diskusi dan dua kali menggelar kelas menulis. Selain kegiatan diskusi, di tahun 2018 ada beberapa iven yang telah diagendakan oleh Metanarasi untuk digelar. Namun, hal ini belum bisa di publikasikan.

Kenapa dunia literasi begitu penting untuk dipahami oleh generasi muda? Hal ini berguna untuk memahami kompleksitas dunia, serta tradisi literasi yang kuat akan membantu seseorang dalam menghadapi tantangan realitas yang keras. Pada intinya –seperti pada umumnya– membaca adalah kunci untuk mengenal dan melihat dunia.

Semoga di tahun 2018 Metanarasi bisa lebih merangsang kembali spirit intelektualisme para generasi muda di Manado dalam menghadapi tantangan yang akan datang. Dikarenakan, seyogianya para pemuda-pemudi merupakan fondasi dalam menjaga keutuhan Kota Manado –dalam aspek kemajemukan dan toleransi, tandas Faiz.

Sejak pertama kali dibentuk, Komunitas Metanarasi mulai aktif pada bulan Juni 2017. Dengan komposisi anggota inti yang terdiri dari 12 orang; mahasiswa-mahasiswi dengan latar belakang, suku, agama, dan budaya yang berbeda. Status pendidikan kedua belas orang tersebut berasal dari sejumlah perguruan tinggi yang ada di Sulut, diantaranya adalah Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado dan Universitas Negeri Manado (Unima). (RE)