Steven: Jangan “Power Syndrome” Saat Kita Punya Jabatan

Wagub Sulut, Drs. Steven Kandouw, saat memberikan sambutannya di salah satu kebaktian yang dikunjungi di Kabupaten Minahasa, Minggu (18/2/2018). (fto:ist)

Minahasa, KomunikaSulut.Com — Dalam kepercayaan umat Nasrani hari Minggu merupakan hari yang diwajibkan untuk melaksanakan peribadatan. Rupanya hal ini menjadi salah satu prinsip yang dipegang teguh oleh Wakil Gubernur Sulut, Drs. Steven Kandouw. Dua acara kebaktian ibadah pun disambangi oleh orang nomor dua di Bumi Nyiur Melambai itu, Minggu (18/2/2018).

Ibadah yang pertama adalah kebaktian dalam rangka hari ulang tahun ke-31 Jemaat Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Zaitun Sumalangka, di Wilayah Tondano V, Kec. Tondano Utara, Kab. Minahasa, dilanjutkan dengan pelantikan gembala Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI) Pusat Langowan, di Kab. Minahasa.

Dalam sela-sela dua kegiatan itu, Steven menyampaikan sambutannya. Beliau berpesan agar kita sebagai umat nasrani jangan melupakan hal-hal pokok yang terdapat dalam keyakinan kita, jangan hanya terfokus pada instansi, organisasi maupun strukturnya.

“Dalam pelayanan jangan hanya gerejanya yang bagus dan strukturnya yang lengkap, tapi tidak mendatangkan kedamaian, sukacita, harapan dan etika protestan. Seperti halnya bekerja keras dan gotong royong, semua punya kesempatan yang sama untuk melaksanakan nilai-nilai protestan itu. Kita harus mantap di institusi, struktur dan program tapi jangan keropos dan lupa hal yang menjadi substantial,” tegasnya.

“Kita bisa menjadi apa saja di dalam masyarakat, baik pegawai, petani, pedagang dan pendeta. Tapi kita harus selalu berusaha untuk hidup kudus jangan curang dalam kehidupan bermasyarakat,” tambahnya.

Selain itu, memasuki tahun-tahun politik Steven mengingatkan kepada setiap umat nasrani yang menjadi pejabat dan memiliki kekuasaan tidak menjadi Power Syndrome karena sangat berbahaya dalam kehidupan berkeagamaan.

“Saya ingatkan kepada saudara-saudara yang memiliki kuasa. Jabatan apa saja yang kalian miliki jangan sampai menjadi Power Syndrome. Kalau dalam konteks Post Power Syndrome, hanya akan berdampak pada diri dia sendiri, tapi Power Syndrome akan berimbas kepada seluruh orang disekitar kita. Karena hal itu akan membuat kita rentan menyalahgunakan jabatan dan kekuasaan kita,” tuturnya.

“Marilah kita baku-baku bae, baku-baku sayang, baku-baku inga. Marilah kita menjadi berkat bagi semua orang,” himbau Steven.

Akhir kata Steven, dia mengatakan, “Tiada kata selain berbahagia, bersyukur dan puji Tuhan karena bisa  beribadah serta memuji Tuhan bersama-sama saat ini,” tutupnya. (RE)