Prof Kandou Gugur di Pilrek Unsrat? Kusen: Kita Tidak Mendiskualifikasi

Ilustrasi. (fto:ist)

Manado, KomunikaSulut.Com — Setelah melalui berbagai tahapan proses penjaringan, hasil akhir pun menetapkan hanya tujuh bakal calon Rektor Unsrat yang akan maju ke tahapan selanjutnya. Hal ini tertuang dalam berita acara pemeriksaan keabsahan persyaratan bakal calon Rektor Unsrat periode 2018-2022 Nomor 50/PAN-PILREK/II/2018, oleh panitia penjaringan dan siaran pers Senat Unsrat Nomor: 15/UN12/SU/II/2018, Selasa (27/2/2018).

Hasil tersebut secara tidak langsung menyatakan Prof. Dr. dr. Grace Kandou, M.Kes (Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unsrat) tidak bisa lagi mengikuti kontestasi Pilrek Unsrat 2018 dikarenakan berbagai pertimbangan dan hasil dari dua tahapan voting yang dilakukan dalam rapat Senat Unsrat untuk penetapan calon rektor, Senin (26/2/2018).

Kepada KomunikaSulut, Ketua Senat Unsrat, Prof. Dr. Ir. Janny Dirk Kusen, M.Sc, mengklarifikasi hal tersebut.

“Berdasarkan pertimbangan panitia hanya tujuh calon yang sudah lengkap persyaratannya. Persoalan yang dimaksudkan kepada Prof. Kandouw pada dasarnya masih belum jelas, karena masih sementara berproses di PTUN,” lugasnya.

Hal ini membuat Senat Unsrat dan panitia terjadi pro-kontra, lanjut Prof. Kusen, sehingga tidak bisa menghasilkan musyawarah mufakat. Akhirnya kita sepakat melakukan voting untuk  memutuskan kelanjutan tahapan Pilrek kedepannya.

Dalam persoalan ini, tidak ada kata-kata beliau (Prof. Kandou) untuk tidak bisa ikut. Hanya ada pihak yang lebih memilih tujuh calon saja yang lanjut dan ada yang memilih tetap delapan calon. Hasil voting pun bukan berarti kita sudah mendiskualifikasi beliau, tapi semuanya ada pertimbangannya dan hal itu juga akan dipertimbangkan oleh kementrian. Jangan ada yang menafsir kita mendiskualifikasi, nanti terjadi multitafsir dan terjadi misinterpretasi. Tahapan ini kan belum berakhir, kita tunggu saja proses kedepannya, tegas Prof. Kusen.

Saat dimintai tanggapan terkait statement yang dilontarkan Prof. Kandou, kepada awak pers tentang keluhannya yang merasa haknya dizalimi dalam Rapat Senat, Senin (26/2/2018), Prof. Kusen memilih tidak menanggapi hal itu.

“Itu pendapat beliau, saya tidak bisa mengkomentari hal tersebut,” tandasnya.

Dalam siaran pers Senat Unsrat menjelaskan dari 17 jenis dokumen yang dimasukan Prof. Kandou, ada satu dokumen yang menjadi pertimbangan panitia dan senat untuk mengesahkannya atau tidak, yaitu jenis dokumen nomor 16 tentang Surat Pernyataan Tidak Pernah Melakukan Plagiat sesuai peraturan perundang-undangan bermeterai Rp. 6000 (syarat m). Hasil penetapan sah atau tidaknya dokumen itu dinyatakan perlu dipertimbangkan berdasarkan Keputusan Rektor Unsrat Nomor 1132/UN12/KP/2013 tanggal 6 Mei 2013 yang menjelaskan tentang penjatuhan sanksi penundaan pengusulan guru besar karena diduga melakukan autoplagiat (keputusan itulah yang sedang dalam proses gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Manado dan telah ada putusan sela Nomor 07/PEN/2018/PTUN.MDO, tanggal 6 Februari 2018).

Terdapat dua tahapan voting yang dilakukan senat, pertama adalah voting untuk meminta senat meneyetujui diadakannya voting atau tidak –dalam menentukan keikutsertaan calon rektor nomor urut 7 (Prof. Kandou). Voting tahap II untuk menentukan pilihan menyetujui adanya delapan nama calon dalam Pilrek Unsrat atau hanya menyetujui tujuh nama calon Pilrek saja.

Hasil voting tahap II pun menyatakan terdapat 37 anggota senat yang menyetujui hanya tujuh nama calon di Pilrek Unsrat, 14 anggota senat menyetujui untuk tetap delapan orang nama calon, 3 anggota senat abstain (tidak memberikan suara), dan 6 anggota senat walkout (meninggalkan ruangan).

Dalam keterangan Prof. Kandou kepada awak pers, Senin (27/2/2018), setelah meninggalkan ruangan sidang ketika proses voting akan dimulai, mengungkapkan kekecewaannya setelah rapat senat memutuskan untuk voting dan mempertimbangkan keikutsertaannya dalam Pilrek Unsrat 2018. Temuan autoplagiat yang disangkakan kepadanya pun diakuinya dilakukan dengan tidak sengaja, apalagi sudah ada putusan sela PTUN.

Diketahui, kedepannya Prof. Kandou beserta tim akan menkonsultasikan permasalahan ini ke Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) agar dilakukan peninjauan kembali soal status keikutsertaannya dalam kontestasi Pilrek Unsrat 2018. (RE)