Empat Bulan Tak Bisa Berdagang, Pedagang Sabua Bulu Demo Pemkot Manado

Manado, komunikasulut.com — Forum peduli solidaritas masyarakat pantai mengadakan aksi di Kantor Walikota Manado, Kamis (22/3/2018). Latar belakang masalahnya terkait dengan pembongkaran 100 kios pedagang di Sabua bulu Malalayang tanggal 30 November 2017 yang menyebabkan pedagang tak bisa berjualan sampai saat ini.

“Warga pedagang di Sabua bulu Malalayang menderita karena sejak kios mereka dibongkar selama kurang lebih empat bulan, tidak ada penataan kembali sehingga kami menderita,” jelas Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Metro Manado, Zainudin Pai.

“Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari hasil berdagang di pantai Malalayang. Seharusnya itu menjadi perhatian pemerintah,” tandasnya.

Sementara itu, perwakilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulut meminta pemerintah memperhatikan kaum masyarakat pedagang. Jangan sampai mereka digusur kemudian memasukan investor besar dan menyingkirkan rakyat kecil.

Seorang ibu pedagang yang mengaku punya lima anak, minta agar Walikota  Manado Vicky Lumentut menerapi janjinya dan jangan membiarkan warganya menderita.

“Ade kasiang, biar Jo mama tukang goreng pisang. Mar Mama ley suka ngoni jadi orang,” tuturnya.

Warga yang merupakan pedagang tetap menuntut wali kota memperhatikan mereka sebagai penduduk asli Malalayang Dua.

Kepala Badan Kesbangpolinmas Manado, Hanny Solang, mengatakan pembangunan sudah direncanakan dan sedang dirapatkan akan dibuat apa lokasi tersebut. Mohon agar bersabar. (Dims)