Pimpinan Fakultas dinilai Otoriter, Ormawa FMIPA Unsrat Gelar FGD

Suasana FGD yang dilaksanakan ormawa FMIPA Unsrat di ruangan RK3.

MANADO, KOMUNIKASULUT.COM — Dalam rangka mengevaluasi dan meresolusi berbagai persoalan yang sedang terjadi di bidang kemahasiswaan dan organisasi mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado mengadakan Focus Group Discussion (FGD) pada Rabu (28/11/2018).

Kepada komunikasulut, Ketua BEM FMIPA Unsrat, Steleynes Sagay, menjelaskan latar belakang pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Sejumlah tugas dari organisasi mahasiswa adalah menjadi payung untuk mewadahi dan menyalurkan aspirasi seluruh mahasiswa. Dalam rangka merealisasikan kewajiban tersebut serta dilatarbelakangi dengan problematika mahasiswa yang begitu banyak, maka program penalaran ilmiah ini kami laksanakan,” jelasnya.

Output yang diharapkan dari program ini, lanjut Steleynes, adalah terciptanya solusi yang mampu menyelesaikan setiap masalah yang dialami ormawa serta peningkatan kesejahteraan mahasiswa, terlebih khususnya ormawa di FMIPA.

Dalam FGD ini ada tiga topik utama yang dibahas, berupa aktivitas ormawa yang dihambat, pengambilan kebijakan pimpinan fakultas yang otoriter terhadap ormawa dan anggaran kemahasiswaan yang abu-abu, tambah Steleynes.

Kegiatan melibatkan 57 orang mahasiswa yang terdiri dari pimpinan ormawa (DPM, BEM, BKM, UKM dan Himaju) bersama Wakil Dekan (3) Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FMIPA Unsrat, Djoni Hatidja, S.Si.

Berdasarkan press released, beragam fenomena yang dipaparkan dalam kegiatan ini terdiri dari masalah aktivitas ormawa yang dihambat; banyaknya kegiatan mahasiswa yang tiba-tiba diberhentikan oleh penjaga keamanan sekalipun mahasiswa sudah meminta izin terlebih dahulu. Lalu masalah kebijakan-kebijakan yang diambil secara sepihak; keluhan tentang adanya edaran yang mengatakan bahwa jika tidak ada kegiatan perkuliahan maka mahasiswa dilarang duduk, makan dan minum di dalam kelas.

Hingga akhir kegiatan, para mahasiswa menilai tidak adanya titik temu dan solusi yang dihasilkan dari pelaksanaan diskusi ini. Pasalnya WD 3 FMIPA meninggalkan ruangan diskusi disela-sela kegiatan sementara berlangsung. Mereka menyesalkan perlakukan pimpinan fakultas tersebut.

Menurut salah seorang mahasiswa peserta FGD yang tidak memperkenankan disebutkan identitasnya, dia menyatakan jika seluruh pimpinan ormawa kecewa dengan respon WD 3 dalam kegiatan diskusi itu.

“Seluruh pimpinan ormawa dibuat kecewa oleh sikap pimpinan fakultas yang tidak selayaknya dipertontonkan. Kami juga sangat kecewa karena keputusan dan perlakuan yang tidak pro pada mahasiswa. FGD yang berlangsung seakan tidak ada titik temu, output yang diharapkan tidak dirasakan. Apalagi dari pembicara sendiri tiba-tiba keluar sebelum kegiatan selesai. Kami tidak tahu mengapa WD 3 tiba-tiba keluar dari ruangan,” paparnya.

Selain itu, mahasiswa tersebut mengungkapkan keresahannya atas persoalan-persoalan kemahasiswaan yang sedang melanda Kampus Putih mereka.

“Kegiatan mahasiswa seharusnya tidak dibatasi waktunya. Karena mahasiswa harus menyelesaikan kewajiban akademik dahulu kemudian menjalankan tanggung jawab dalam berorganisasi di kampus. Tidak ada kegiatan atau program kerja dari ormawa yang mencoreng nama baik fakultas. Yang ada seluruh ormawa bersinergi dalam melakukan semuanya untuk terwujudnya FMIPA yang semakin dibanggakan,” tegasnya.

“Kedepannya kita perlu banyak berbenah dan kami pasti akan menjadi pembenah. Demi terwujudnya Universitas Sam Ratulangi yang unggul dan berbudaya. Demi FMIPA yang selalu bersinergis untuk memanusiakan manusia lain,” tambahnya.

Senada dengan itu, Steleynes Sagay selaku Ketua BEM FMIPA Unsrat berharap semua permasalahan bisa diselesaikan dengan baik.

“Diskusi tadi memang belum memiliki titik temu. Mungkin kami akan menghadap dekan untuk menanyakan hal-hal tersebut. Diharapkan kedepannya semua permasalahan ormawa bisa diselesaikan sehingga tidak ada istilah batasan antara pimpinan fakultas dan mahasiswa. Karena sinergitas itu perlu, demi Kampus Putih yang kita cintai ini,” tandasnya.

Dengan demikian, FGD tetap dijalankan hingga akhir oleh seluruh ormawa –meskipun tanpa kehadiran WD 3. (RE)