Survey Bukan Soal Mencari Elektabilitas, Tapi Suara Hati Konstituen

Josef Kairupan.

KOMUNIKASULUT.COM – Jelang kontestasi Pemilihan Kepala Daerah di Sulawesi Utara pada pertengahan 2020 (1 Pilgub, 3 Pilwakot, dan 4 Pilbup), puluhan lembaga survey berbondong-bondong mengklaim prediksi kemenangan dan modal kekuatan para kandidat pasangan calon.

Meskipun sekedar dijadikan skema pemetaan diri (elektabilitas dan popularitas) oleh para pemesannya sebelum bertarung di arena politik, tidak bisa dipungkiri hasil riset yang demikian acap kali digunakan untuk menggait hati petinggi partai.

Namun seringkali pihak partai sendiri yang menjadikan itu indikator dan preferensi dalam memilah, memilih, dan mengusung individu yang dinilai mampu memenangkan kompetisi (kader maupun simpatisan).

Menanggapi fenomena itu, seorang pengamat di bidang pusat kajian dan sosial politik Fispol Unsrat  Manado, Josef Kairupan, memberikan pandangannya terhadap gelagat saling klaim survey Pilkada yang kerap terjadi. Terlebih khusus, yang saling bercuitan di Kota Manado.

“Utamanya dalam sebuah survey, bukan hanya sekedar persoalan elektabilitas. Tapi keinginan masyarakat dalam melihat masalah-masalah di Kota Manado. Serta, ada faktor-faktor yang mempengaruhi para pemilih itu sendiri dan sejumlah hal lainnya,” tutur Kairupan.

Ketika menyinggung salah satu kandidat potensial yang sedang gencar disorot publik Manado, yaitu Dr. Harley Alfredo Benfica Mangindaan, S.E, MSM; Kairupan memberikan gambaran peta kekuatan dari Wakil Walikota Manado 2010-2015 itu. “Ai itu sebenarnya kuat. Sudah kelihatan di hasil survey, bahkan dari sebelum beliau pasang baliho,” simpulnya.

Namun demikian, Kairupan menaksirkan ada persoalan mendasar yang harus dituntaskan terlebih dahulu. Sebelum Ai bisa bergerak lebih strategis. “Ai harus berjuang untuk mendapatkan kendaraan (partai, red) terlebih dahulu. Setelah itu, barulah mesti menjual program populis,” tandas dosen Jurusan Pemerintahan Fispol Unsrat itu. (RE)