Ai Ingatkan Warga Seimbangi Iman dengan Hikmat Hadapi Corona

Dr. Harley Alfredo Benfica Mangindaan, S.E, MSM. (Foto Ist)

KOMUNIKASULUT.COM – Sudah 20 hari pandemik Covid-19 merebak di wilayah Indonesia, sejak kasus pertama ditemukan. Sampai saat ini, pemerintah pusat hingga daerah terus mengupayakan segala cara untuk menekan angka penyebaran virus corona di tengah masyarakat.

Di antaranya dengan melakukan tracing suspect corona secara masif; memberlakukan social distancing; meliburkan satuan pendidikan dan perguruan tinggi; merumahkan para ASN; merelokasi APBD-APBN untuk menunjang fasilitas kesehatan dan tenaga medis; hingga mempersiapkan distribusi jutaan obat, yang diklaim teruji menyembuhkan pasien terjangkit (avigan dan chloroquine).

Namun demikian, sebuah kesimpulan yang bisa dipelajari dari negara yang berangsur pulih dari puncak krisis wabah ini (China, Korea Selatan, Vietnam, dsb), yakni mereka mampu menciptakan sinergitas yang merata antara pemerintah dan masyarakat dalam menghentikan penyebaran virus dari masing-masing teritori.

Dalam hal ini, peran pemerintah bekerja keras memberikan treatment terbaik demi menyembuhkan sebanyak-banyaknya pasien terinfeksi. Sementara peran masyarakat, memastikan tidak ada penambahan kasus baru, dengan cara berdiam diri di kediaman masing-masing. Sehingga, tidak ada lagi skenario adanya orang berstatus suspect maupun carrier Covid-19, yang membawa virus ini berkeliaran di tengah keramaian.

Di Indonesia sendiri, terutama di Sulawesi Utara, KOMUNIKASULUT.COM telah melakukan pantauan di beberapa titik keramaian Kota Manado. Dan tebak saja, sebagian warga terkesan tidak menghiraukan instruksi pemerintah daerah untuk beraktivitas di rumah, sampai waktu dua minggu sesuai ketentuan.

Baik kaum milenial hingga manula, masih lalu-lalang di tengah padatnya aktivitas perkotaan, yang saat ini hanya sedikit lenggang. Mungkin sebagian warga masih menganggap ini sebagai hal sepele, karena barulah satu orang terindikasi positif corona di Sulut. Dan kondisinya dikabarkan berangsur baik.

Di sisi lain, salah satu denominasi gereja terbesar yang ada di Sulut, yaitu Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) telah meniadakan aktivitas peribadatan untuk sementara waktu. Ini tertuang dalam Surat Nomor K.0585/PPD.VII/03-2020 Tentang Penggembalaan Dan Himbauan Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19.

Menyikapi hal itu, Dr. Harley Alfredo Benfica Mangindaan, S.E, MSM, selaku warga GMIM dan tokoh masyarakat di Sulut, menghimbau seluruh warga supaya bijak dalam mematuhi arahan pemerintah. Segala ketetapan yang dibuat, ditujukan untuk kebaikan bersama seluruh umat Bumi Nyiur Melambai.

“Sebagai umat beragama yang punya kepercayaannya masing-masing, menghadapi situasi ini dengan iman itu harus. Tapi jangan lupa, bahwa Tuhan juga memberikan hikmat kepada kita semua,” lugas Ai (sapaan karib).

Ai juga berpesan kepada masyarakat, agar menghadapi masa kelam ini dengan terus berdoa, namun tidak lupa untuk dibarengi dengan usaha. Karena manusia membutuhkan Tuhan supaya bisa mendapatkan takdir yang pasti.

“Manusia hanya bisa mengira-ngira jalannya, tapi Opo Empunglah (Tuhan Yang Maha Besar, red) penentunya. Tetap berdoa, supaya kondisi bisa semakin menjadi lebih baik lagi,” tandas Wakil Walikota Manado 2010-2015 itu. (RE)