Kuliah Online Banyak Kendala, Ini Tanggapan Dosen Komunikasi Unsrat

dosen komunikasi fispol unsrat edmon kalesaran
Edmon Kalesaran, S.Sos, M.I.Kom.

KOMUNIKASULUT.COM – Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado telah menambah periode kuliah online hingga 29 Mei 2020. Ini membuat aktivitas belajar-mengajar seluruh mahasiswa dan tenaga pendidik, dilanjutkan dari kediaman masing-masing hingga waktu yang ditentukan.

Baca juga: Ini Solusi Unsrat Lanjutkan Perkuliahan di Tengah Pandemi

Kuliah daring Unsrat menggunakan metode e-Learning, yakni sistem Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang memanfaatkan sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), sebagai media pembelajaran dosen kepada mahasiswa. Penerapannya sering menggunakan fitur live streaming dan telekonferensi yang sudah tersedia di mayoritas perangkat telekomunikasi terbarukan, tanpa khawatir terbatasi jarak dan waktu penggunanya.

Namun kenyataannya, kecanggihan dan kemudahan itu tidak serta-merta melancarkan penggunaannya di lapangan. Jelang dua minggu pemberlakuan kuliah online di Unsrat, hambatan dan keluhan banyak bermunculan. Baik yang datang dari tenaga pendidik, maupun mahasiswa sendiri.

Sejumlah kendala utama yang ditemui, pertama, tempat tinggal civitas akademika Unsrat yang umumnya tersebar di wilayah Sulut, sering tidak mendapat signal provider/internet yang cukup untuk mengakses fasilitas telekomunikasi tersebut. Ini sering menghambat agenda pembelajaran yang sudah dirancangkan, dan kerap kali memutuskan koneksi kelas online di tengah pelaksanaannya.

Kedua, biaya yang tidak sedikit untuk memenuhi kuota internet secara maraton, memberatkan sebagian warga Unsrat yang berasal dari keluarga kurang mampu. Yang biaya hidupnya hanya cukup memenuhi kebutuhan primer sehari-hari. Terlebih lagi, mereka yang tidak punya spesifikasi teknologi (smartphone, laptop, komputer) yang mendukung akses e-Learning.

Ketiga, kompetensi sejumlah tenaga pendidik yang dinilai mahasiswa kurang mendukung penerapan e-Learning. Karena hanya bertumpu pada pemberian tugas yang berjilid-jilid, dan hampir tidak pernah melaksanakan kuliah daring secara interaktif. Sekalinya mengadakan kelas online, proses belajar-mengajar berlangsung monoton dan tidak ada inovasi untuk memacu semangat belajar mahasiswa.

Kondisi ini disadari betul salah satu dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi Fispol Unsrat, Edmon Kalesaran, S.Sos, M.I.Kom. Dirinya berpendapat, hal-hal tersebut memang masih jadi kekurangan dari penerapan kuliah jarak jauh di kampus-kampus tanah air, begitupun di Unsrat. Sehingga perlu segera dicarikan solusinya, supaya nanti siap menyesuaikan diri di Era Revolusi Industri 4.0.

“Diberlakukannya sistem pembelajaran seperti ini, kan karena situasi yang sedang force majeure (keadaan memaksa, red). Meskipun diklaturnya sudah dipersiapkan kampus, tapi banyak warga Unsrat seperti kaget dengan penerapan ini. Memang tidak semua, tapi beberapa sumber daya pasti belum terbiasa. Ini termasuk dosen dan mahasiswa sendiri,” buka Edmon.

“Tapi mau tidak mau, siap tidak siap, konsep ini yang paling efektif dan efisien di situasi sekarang. Hanya saja, kita perlu menentukan indikator pembelajarannya dan mengontrol penerapannya ke mahasiswa. Indikator itu yang perlu kita pahami terlebih dahulu, dan kita jelaskan kepada mereka. Kalau tidak, pasti akan ada yang komplain kalau tugas-tugas mereka terlalu banyak,” lanjutnya.

Dari pandangan Edmon, indikator pemberian tugas sebenarnya untuk mendorong mahasiswa memperkaya wawasan pribadi, dari waktu luang yang diberikan kepada mereka dalam mencari informasi. Dan menjadi kesempatan mahasiswa untuk mempertajam kemampuan menganalisa sebuah materi.

“Kalau saya pribadi, tolak ukur dan indikatornya adalah semakin banyak informasi yang mahasiwa dapat di internet, maka lebih banyak wawasan mereka. Tapi saat dosen yang lebih banyak eksplor mengajar, bisa-bisa mahasiswa hanya sekedar mendengar saja. Makanya terkadang harus ada review. Supaya selain mereka mendengar materi, juga ada menulis, dan mencari informasi yang lebih banyak tentang suatu materi,” tanggapnya.

Edmon berpendapat, ini perlu dilakukan sehubungan dengan penerapan bidang ilmu sosial yang perlu dikuasai mahasiswa. Sehingga mahasiswa juga perlu melihat sisi positif dari metode pembelajaran seperti ini. “Apalagi kalau berkaitan dengan ilmu sosial. Harus ada aktivitas analisis dan turun mencari data. Ini yang jadi sisi positifnya. Mahasiswa saat ini kan sudah lebih pandai dan dipermudah untuk mengakses informasi,” ujarnya.

“Semisal ketika mahasiswa diminta mencari literatur internasional. Jika sudah didapatkan, itu bisa ditranslate dan direview dengan dosen. Nanti ada satu waktu, dosen akan berikan gambaran soal materi yang dibahas. Tapi saat mahasiswa dapat analisa yang lebih bagus, kita lebih bisa sama-sama belajar,” tambah Edmon.

Dengan demikian, Edmon menganggap situasi ini sebagai momentum yang tepat untuk menguji kesiapan Unsrat menyambut Era 4.0. Sehingga segala problematika yang terjadi di level mahasiswa hingga rektorat, bisa segera dievaluasi. Dan dijadikan batu loncatan untuk kemajuan kampus kedepan.

“Situasi ini akan jadi modal pengalaman warga Unsrat kedepan. Karena nanti kita akan lebih berkecimpung dengan dunia IT. Ini malah jadi momentum untuk mempraktikkan sistem itu sebenarnya. Meskipun ini mulai diterapkan karena terjadi force majeure, tapi Unsrat sebenarnya sudah mempersiapkan untuk kesana,” ungkapnya.

“Setiap dosen sudah mulai buat modul e-Learning nya masing-masing. Saya sendiri juga ada. Hanya memang belum bisa diterapkan secara maksimal, karena infrastruktur yang tersedia belum bisa diakses secara maksimal. Di PTI Unsrat memang sudah tersedia, tapi masih sering terkendala signal jika berada di luar kampus. Mudah-mudahan Unsrat kedepannya bisa terus berkembang, seiring dengan lengkapnya ketersediaan fasilitas itu,” rangkum Edmon kepada KOMUNIKASULUT.COM, Jumat (27/3/2020). (RE)