Pers Jangan Abaikan Protokol Kesehatan Saat Liput Covid-19

Atal S. Depari. (Dok. BNPB)

KOMUNIKASULUT.COM – Covid-19 telah menyentuh 34 provinsi di Indonesia. Jumlah kasus terbaru pun sudah menembus angka 3.512. Untuk itu, pemerintah tak hentinya menggenjot percepatan penanganan virus dengan melibatkan semua kalangan.

Pers sebagai bagian dari itu, punya peran signifikan dalam memberikan informasi, edukasi, dan kontrol sosial di tengah pandemi. Karenanya, sebagai garda terdepan untuk mensosialisaikan dampak wabah tersebut, pers tidak boleh sembrono melakukan kerja-kerja jurnalistik di medan terinfeksi.

“Saya bangga sekali wartawan bisa menjadi garda terdepan menyampaikan informasi COVID-19. Tapi saya mengingatkan harus mengutamakan kesehatan, mengutamakan kondisi. Jangan sampai protokol kesehatan diabaikan,” kata Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Atal S. Depari dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Jumat (10/4/2020).

“Seluruh organisasi pers termasuk PWI terus mengingatkan, mengimbau, dan menyampaikan seluruh anggotanya agar menjalankan prosedur yang benar saat peliputan selama pandemi Covid-19,” lanjutnya.

Secara konkrit, Atal meminta seluruh rekannya menghindari mekanisme peliputan yang mengharuskan bergerombol. Ini menyesuaikan dengan penerapan physical distancing yang dianjurkan WHO dan pemerintah, sebagai salah satu langkah efektif mengurangi resiko penularan virus.

“Hingga kini peliputan sudah mulai dibatasi dalam artian tidak lagi berkerumun, sejalan dengan prinsip physical distancing. Diharapkan peliputan yang sebelumnya masih mengundang banyak wartawan sehingga menimbulkan kerumunan, untuk dihindari selama pandemi Covid-19,” pintanya.

“Karena beberapa waktu lalu, entah diundang atau apa, teman-teman wartawan masih bergerombol. Ketika kita kampanye,  tapi social distancing masih ada yang berkumpul. Begitu juga di beberapa daerah,” cetus Ketua PWI.

Di samping itu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Letnan Jenderal TNI Doni Monardo juga menganjurkan hal yang sama kepada wartawan.  “Dalam hal ini banyak metode peliputan yang bisa dilakukan, tanpa harus mengambil risiko dengan berkerumun di lapangan. Misalnya melalui televisi pool, televisi streaming, telepon seluler, dan sebagainya,” sarannya. (RE)