Tenaga Kerja di Sektor Pariwisata Sulut Paling Terdampak Covid-19

kepala dinas pariwisata sulut
Henry R.W. Kaitjily, S.H. (Foto Ist)

KOMUNIKASULUT.COM – Sektor Pariwisata di Sulawesi Utara menyumbang angka terbanyak, untuk jumlah tenaga kerja yang mengalami PHK dan dirumahkan oleh perusahaannya. Ini sebagai buntut dari pandemi Covid-19 di Bumi Nyiur Melambai.

Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Utara, Henry R.W. Kaitjily, SH, menindaklanjuti keterangan tersebut kepada awak media, seusai mengikuti rapat LKPJ DPRD, Kamis (23/4/2020).

“Ini kan update terus datanya, jadi bicara pekerja harian yang terdampak dan dirumahkan ada 4.600an dari berbagai sektor. Ini data yang kita himpun dari kabupaten dan kota. Lalu terkait yang di-PHK, ada sekitar 600an dari sektor pariwisata,” lugasnya.

“Jadi memang angkanya PHK itu belum terlalu banyak, tapi lebih banyak yang dirumahkan. Kalau yang dirumahkan, mereka ada insentif sendiri. Termasuk kemampuan mereka (perusahaan, red) untuk membayar para pekerja itu selama dirumahkan. Ada juga yang sifatnya on call, sewaktu-waktu dibutuhkan akan disampaikan,” sambung Kepala Dinas.

Jenis pelayanan apa saja yang terimbas pemutusan kerja di sektor pariwisata, dikatakan Henry beragam jenisnya. “Bervariasi. Kalau untuk pelayanan kan contohnya seperti di bagian travel, yang terdampak itu sekitar 850 yang dirumahkan,” tuturnya.

Kebijakan untuk menutup lokasi wisata selama masa pandemi corona sudah diberikan kewenangannya kepada bupati dan walikota, untuk mengeksekusi hal tersebut berdasarkan landasan hukum di daerah domisili masing-masing.

“Sektor destinasi ini kan himbauan dari kabupaten kota. Dalam hal ini bupati dan walikota yang membuat edaran untuk menutup tempat destinasi. Dan saya rasa mayoritas tutup semuanya sekalipun bertahap, termasuk Bunaken juga,” limpahnya.

“Ini juga bergantung kesadaran dari masyarakat, bahwa social distancing dan physical distancing itu perlu. Sehingga menjadi pemicu kenapa sektor pariwisata harus ditutup, dan paling banyak terdampak,” pungkas Henry. (RE)