Aktivis Jangan Berdiam Diri di Masa Pandemi

sahat martin philip sinurat
Sahat Martin Philip Sinurat, S.T, M.T. (Foto Ist)

KOMUNIKASULUT.COM – Sekretaris Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Sahat Martin Philip Sinurat, S.T, M.T, meminta kaum aktivis tidak berleha-leha selama masa pandemi. Terlebih di tengah wacana New Normal yang segera diberlakukan pemerintah.

Ini disampaikan Sahat ketika menjadi pembicara webinar yang digelar Literasi Milenial Sulawesi Utara, dengan bertajukan “Langkah Aktivis Menuju New Normal” pada Sabtu (30/5/2020).

“Jangan sampai masa pandemi menjadikan kita terlena, bersantai-santai, tidak kreatif lagi, tidak mengembangkan diri, tidak mengeluarkan karya, dan tidak mengeluarkan kritik terhadap sistem. Yang pasti aktivis harus terus berkembang. Karena waktu terus berjalan. Pandemi tidak membuat usia kita berhenti,” cetusnya.

“Jangan juga agenda menyambut New Normal membuat kita tidak kritis lagi sebagai aktivis dan mahasiswa. Tetap ruang kekritisan harus diisi oleh generasi muda. Ketika ada ketidakadilan, ada kondisi yang tidak benar, ada hal yang salah dilakukan berbagai pihak, tetap generasi muda harus bersikap. Tapi apakah kita tetap melakukan cara lama? Tentu diperlukan integrasi dan kolaborasi aktivitas yang dulunya offline, kini bisa kita lakukan secara online,” tambah Sahat.

Aktivis bisa menggunakan beragam media terbarukan yang disediakan Era Revolusi Industri 4.0, untuk melakukan pergerakan. Maksudnya tidak untuk menghilangkan cara konvensional. Namun mengkooperasikan segala elemen yang dibutuhkan, agar tetap bisa memperjuangkan hak-hak rakyat sebagaimana mestinya.

“Kalau dulunya kita sebatas melakukan demonstrasi, sekarang kita sudah bisa membuatnya dengan media, dengan gambar-gambar, video, tulisan, atau apapun yang bisa kita gunakan dengan memanfaatkan dunia digital ini,” jelas Sahat.

“Sekarang tinggal bagaimana teman-teman bisa mengembangkan diri dengan memanfaatkan fasilitas digital. Artinya, kalau selama ini kita mengurus organisasi dengan pendekatan offline, sekarang kita harus mulai menggunakan sarana dan prasarana online untuk mengembangkan diri serta organisasi,” sambungnya.

Sebagai contoh, “Beberapa minggu yang lalu kita diundang diskusi dari teman-teman GMKI wilayah Sumatera Utara. Mereka coba mewacanakan konsultasi wilayah secara virtual. Jadi kalau selama ini pertemuan organisasi harus secara langsung, ternyata sekarang sudah bisa secara virtual. Kenapa tidak bisa?” ungkap Sekum.

Milenial tidak boleh kalah dengan generasi seniornya. Pemerintah dan pihak swasta telah membiasakan diri melakukan segala hal resmi melalui telekonferensi. Kaum muda yang notabenenya punya kapasitas dan kapabilitas dominan di era ini,  tentunya harus bisa melakukan lebih.

“Bayangkan teman-teman, DPR RI saja bisa melakukan Rapat Dengar Pendapat atau RDP secara virtual. Antar pimpinan komisi, anggota DPR, bersama pimpinan institusi lainnya. Perusahaan juga mulai melakukan rapat umum pemilik saham atau RUPS secara virtual,” tutur Sekum.

“Masa kita generasi muda dan para aktivis yang katanya bisa berkembang mengikuti perkembangan zaman, tidak bisa menggunakan media virtual ini untuk melakukan pertemuan kita. Yang selama ini biasa kita lakukan secara offline, kita rubah menjadi online,” tandasnya. (RE)