Dewa Kipas

  • Whatsapp
valentino-lumowa
(Foto Ist)

Oleh: Valentino Lumowa, Akademisi Unika De La Salle Manado.

DEWA Kipas bukanlah sebuah identitas transenden. Ia merujuk pada nama sebuah akun yang sedang menyita perhatian jagad catur. Kisah ini berhulu sama dengan berjuta-juta orang di dunia yang sedang mencirikan diri sebagai homo ludens (manusia yang bermain). Namun, ruang mereka bukan lagi pekarangan atau beranda tetangga, melainkan realitas maya. Dunia mereka bukan lagi yang dipijak, namun yang digenggam melalui satu perangkat telepon genggam pintar.

Pada tanggal 2 Maret 2021, reputasinya melejit ketika mengalahkan pecatur Rusia bergelar Fide Master (FM) dengan akun Orlov Oleg dan pecatur daring populer sekaligus pecatur profesional asal Amerika Serikat, Internasional Master (IM) Levy Rozman (25). Rozman yang menggunakan akun GothamChess dikalahkan pada laga catur cepat 10 menit di aplikasi Chess.com (kompas.id, 14 Maret 2021 dan Kompas cetak, 10 Maret 2021).

Pencapaian itu menggemparkan karena sang “Dewa Kipas” tidaklah merepresentasi sejarah reputasi mumpuni dalam catur daring. “Jangankan bergelar FIDE, seperti IM ataupun GM, Dadang [pemilik akun “Dewa Kipas”] tidaklah mempunyai rekam jejak prestasi di percaturan nasional” (Kompas.id). Hempasan tsunami dalam kemapanan jagad catur yang digelar oleh “Dewa Kipas” ini rupanya ditangkap dari perspektif berbeda oleh Chess.com. Mereka kemudian memblokir akun “Dewa Kipas”. Pernyataan mereka di Twitter, tanggal 4 Maret 2021 menegaskan alasan pemblokiran yang merujuk reviu Fair Play Team mereka berdasarkan kebijakan Chess Cheating mereka.

 

Pro vs Kontra

Aksi bertemu reaksi. Persona dibalik akun “Dewa Kipas” bernama asli Dadang Subur. Gelar atraktif bak pendekar ini sebenarnya membungkus seorang individu pecinta catur. Ia pernah menjabat Bendahara Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kalimantan Barat dan pernah bergabung dalam berbagai klub catur (Kompas cetak, 13 Maret 2021). Reaksi datang bak gelombang pasang dari ribuan netizen Indonesia. Kata-kata kasar, bahkan ancaman, membanjiri media sosial Rozman. Masalah secara lancar dan tergesa-gesa merambah sentimen nasionalisme yang sering sepi nalar. Hasilnya, Indonesia diblokir dari kanal Youtube Rozman (Kompas.id).

Pembelaan mutlak juga datang dari anak Subur, Ali Akbar. Ia menolak secara tegas dugaan penggunaan alat bantu. Melalui akun Facebook-nya, Akbar menjelaskan posisinya sebagai saksi proses permainan bapaknya dan bagaimana ia selalu menjelaskan hasil permainannya kepada sang anak.

“Salah satu kontroversi tergila dalam catur daring dan itu belum berlalu hingga saat ini,” komentar Chief Operating Officer Chess.com, Danny Rensch. Ia pun meladeni kisruh ini dengan mengusut dugaan kecurangan “Dewa Kipas” demi meredakan riuhnya jagad catur daring (kompas.id). Hasil penelusurannya mengindikasikan keyakinan mereka akan kecurangan “Dewa Kipas”. Dasar argumen mereka mengacu pada analisis grafik akurasi permainan sang “dewa”.

Strategi analisis ini juga menghilir ke Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi). Mereka melakukan bedah grafik akurasi permainan “Dewa Catur” dan menyimpulkan kejanggalan yang mulai terjadi dari tanggal 22 Februari-2 Maret 2021. Di paruh pertama (11-21 Februari 2021), keterlibatannya dalam permainan virtual ini dianggap normal dan “manusiawi”. “Saat itu, grafik permainannya membentuk gunung dan lembah. Itu sangat manusiawi seperti pecatur umumnya, seperti grafik milik Grand Master Putri (WGM)/Internasional Master (IM) Irene Kharisma Sukandar dan GM Susanto Megaranto,” jelas Pengamat catur dan ahli teknologi informasi PB Percasi, Heri Darmanto (Kompas cetak, 13 Maret 2021).

Keanehan mulai terindikasi di paruh kedua (22 Februari-2 Maret 2021). Grafik permainan sang “dewa” memasuki standar “adikodrati” karena tidak berbentuk gunung dan lembah lagi, melainkan garis datar di puncak. “Akurasi langkahnya rata-rata di atas 90%… di luar akurasi Langkah 100 persen pada 1 Maret” (Kompas cetak, 13 Maret 2021).

Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PB Percasi, Kristianus Liem mengungkap keraguannya terhadap “Dewa Kipas”. “Tidak mungkin pemain sepertinya bisa mencapai akurasi langkah di atas 90 persen. Kalau dilihat, dia (Dadang Subur) paling hanya Master Nasional. Mungkin, dia belajar dari banyak bermain (daring). Namun, semestinya, dia tidak bisa mencapai akurasi di atas 90 persen. Hal yang masih mungkin paling sekitar 80 persen” (Kompas cetak, 10 Maret 2021).

Ketua Umum PB Percasi, Utut Adianto, justru menaikan status rujukan. Setelah analisis grafik akurasi permainan diulas sebagai dasar argumen, Adianto mengacu idealisme seorang pecatur “manusiawi”. “Menjadi pecatur hebat butuh proses panjang, setahap demi setahap. Butuh pula pengorbanan. Semua itu dibangun dengan kejujuran sebagai fondasi, tegasnya (Kompas cetak, 10 Maret 2021).

 

Banalisme

Refleksi penulis menelusuri pintu yang Adianto buka dengan penegasannya. Penulis tidak akan menganalisis kebenaran di balik fenomena kiprah sang dewa, yang bak mengabdi nuansa namanya, telah menuai badai di antero jagad catur. Seluruh analisis tentang grafik akurasi permainan “Dewa Kipas” cenderung menegaskan dugaan tersebut. Namun, tak satupun bukti yang secara langsung menguak penggunaan alat bantu mesin e-nalar di balik permainan sang “dewa”. Sejauh ini, hanya sang “dewa” dan anaknya yang tahu. Kebenaran faktual itu ada, namun masih terselubung kabut.

Dunia maya melalui pintunya, internet, menawarkan kebebasan akses dan kemerdekaan aktualisasi diri dengan cara dan durasi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Individu bisa melakukan apa saja dan menjadi siapa saja yang ia inginkan. Ruang ekspresi dan aktualisasi berbanding sejajar dengan keluasan kemerdekaan yang ditawarkan. Akibatnya, sukses cepat banyak diraih orang. Sukses pun dengan cepat mengandung makna selaras dengan reputasi, status, kualitas, kuantitas, bahkan kebenaran itu sendiri.

Di era Modern, kebenaran yang secara misterius ada di balik realitas dicari, direnungkan, diperdebatkan, diuji, dan akhirnya dirayakan sebelum kemudian diuji lagi. Di jagad kontemporer ini, kebenaran sering kali dikonstruksi dan dibentuk oleh populisme, atau kekuatan massa yang sangat gampang digalang di dunia maya. Terang budi kini redup ditelan amuk massa virtual. Mereka, dengan berbasis kebersamaan virtual, mengudeta tahta nalar sebagai pengabdi dan pencari kebenaran.

Semua privilese yang ditawarkan dunia virtual ini mengeringkan dunia riil. Ia menyedot habis aroma, nuansa, keriangan, dan bobot makna dunia sebagaimana dialami panca indera. Kekeringan makna ini meninggal dunia yang kita tinggali ini dengan kesan dasar keremehan, kesederhanaan, dan ke-biasa-an (untuk membedakannya dengan kebiasaan). Dunia ini tak menggairahkan lagi. Banyak yang telah meninggalkannya dan menganggapnya sebagai realitas banal dan kering.

 

Hiperrealisme

Dunia maya telah menawarkan sesuatu yang lebih. Realitas diangkat ke tataran “hiperrealisme”, mengekor teori hyperreality Jean Baudrillard (1929-2007), sosiolog dan filsuf kontemporer asal Prancis.

Bagi Baudrillard, dunia kontemporer telah menghadirkan “hiperrealitas” melalui hiburan, informasi, dan teknologi komunikasi yang lebih “hidup” dan lebih “melibatkan” daripada tawaran “biasa” dan “sederhana” kehidupan harian. Sedemikian memikatnya tawaran “hiperrealitas” sehingga realitas harian terasa sangat kering, tak menarik, dan “kurang riil”. Pengakuan manusia kontemporer akhirnya tunduk pada tawaran “hiperrealitas” dan mengusungnya sebagai realitas itu sendiri.

Dengan dunia nyata, mereka merasa terasing karena keinginan dan hasrat mereka justru terpenuhi oleh “hiperrealitas”. Bagi para individu kontemporer atau pascamodern, realitas harian tampil bagaikan “padang gurun” tanpa kelapangan aktualisasi ambisi liar mereka. Aktualisasi kehebatan diri sering kali muncul dan dilayani oleh misalnya simulasi realitas, realitas diperkaya (augmented reality), permainan fantasi, situs jejaring sosial.

Jawaban terhadap pertanyaan tentang “Dewa Kipas” terjebak “hiperrealitas” karena realitas harian terasa gersang atau tidak masih terkungkung misteri. Walaupun, kebenaran pastinya ada di balik riuhnya fenomena ini. Namun, refleksi jebakan “hiperrealitas” menggema di setiap ufuk kesadaran individu kontemporer.

 

Epilog

“Terjebakkah aku atau tidak?” menjadi senandika setiap nalar pascamodern. (**)