Asap Karhutla Ancam Kesehatan Masyarakat, BEM Unsrat Bagikan 1000 Masker dan Vitamin

Kolase gambar dari aksi sosial BEM Unsrat yang turun ke masyarakat membagikan 1000 masker dan vitamin. (Foto: BEM Unsrat)

komunikasulut.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado menyikapi fenomena Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda Sulawesi Utara dengan aksi sosial.

Sebagai dampak dari Karhutla, pencemaran udara lewat kabut asap yang semakin tebal dan mengancam kesehatan masyarakat Sulut; terutama di Manado, membuat BEM Unsrat tidak bisa berdiam diri untuk memberikan solusi.

Sebanyak 1000 masker dan vitamin gratis dibagikan BEM Unsrat di sejumlah ruas jalan utama di Kota Tinutuan.

“Kami melakukan aksi kemanusiaan dengan membagikan 1.000 masker dan vitamin gratis kepada masyarakat di Bundaran Sario dan depan SPBU Pertamina Sario Kota Manado,” jelas Kelvin Dayo selaku Ketua BEM Unsrat.

“Aksi ini merupakan respons atas polusi udara akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik di Sulawesi Utara,” tambah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsrat tersebut.

Dengan semakin bertambahnya titik api di Sulut, asap Karhutla yang semakin menjadi-jadi di Bumi Nyiur Melambai dinilai perlu mendapatkan solusi dan langkah-langkah yang intens serta masif dari pemerintah.

“Kami menyadari bahwa bantuan ini masih terbatas dibandingkan luasnya dampak yang dihadapi masyarakat. Namun, keterbatasan bukan alasan untuk berdiam diri,” ungkap Kelvin.

BEM Unsrat pun mendesak pemerintah untuk mengambil langkah konkret, terukur, dan berkelanjutan dalam menangani sumber pencemaran serta melindungi kesehatan masyarakat.

“Torang cuma mahasiswa, belum jadi pemerintah. Kalau dengan sumber daya terbatas torang bisa bergerak, maka yang punya kewenangan dan anggaran jauh lebih besar seharusnya mampu berbuat lebih banyak,” tegas Ketua BEM.

“Kami juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mengambil bagian dalam gerakan kemanusiaan ini. Sebab, masyarakat tidak seharusnya dipaksa terbiasa menghirup udara yang tercemar,” tandas Kelvin. (RE)

Pos terkait