Sulut Raup 1,8 Triliun dari Hasil Ekspor 16 Juta Kg Produk Tuna

Kantor Gubernur Sulut. (Ist)

komunikasulut.com – Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) masih menjadi sentra produksi ikan tuna di Indonesia. Provinsi yang dipimpin Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw ini mencatatkan angka kenaikan ekspor produk ikan tuna.

Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Manado, Muhlin mengatakan, tercatat hingga September 2022 Sulut sudah mengekspor 16.651.111,29 kilogram (kg) produk tuna.

Nilainya mencapai US$ US$116.090.616, jika dikonversi ke rupiah dengan kurs sekitar Rp 15.000, maka nilainya mencapai Rp 1.821.798.730.571. Angka ini meningkat dibanding ekspor tahun 2021 di mana produk tuna yang dikirimkan sebesar 15.211.832,56 kg dengan nilai US$ 86.564.501 atau Rp 1.351.921.094.367.

“Ekspor kita meningkat sekitar 9,46 persen. Tujuan ekspor terbesar kita ke Amerika, Arab Saudi, Jepang,” kata dia saat Rapat Koordinasi stakeholder Perikanan Kelautan di Restoran Big Fish, Selasa (13/12/2022) malam.

Di antara 5 top produk tuna, ekspor ini masih didominasi Tuna Kaleng sebesar 52 Persen.
Tuna Kaleng yang diekspor sebesar 8.765.718 kg dengan nilai US$ 41.765.795.

Sementara itu ada juga produk Frozen Tuna sebesar 21,8 Persen. Ekspor total produk ini mencapai 3.437.536 kg dengan nilai US$ 43.892.164. “Jadi Sulut masih menjadi Kota Runa, karena produk dominannya tuna. 90 persen ekspor produk ikan itu tuna,” kata dia.

Ia mengharapkan ekspor akan makin meningkat lagi di waktu mendatang. Di Sulut sendiri berdirinya sekitar 7 perusahaan pengalengan ikan. Merupakan terbesar di Indonesia. (*)