komunikasulut.com – Bagi sebagian mahasiswa, pertambangan sering kali hadir sebatas teori di ruang kuliah. Ada yang mempelajarinya dari jurnal, ada yang mengenalnya lewat perdebatan tentang lingkungan, ekonomi, atau konflik sumber daya alam.
Tetapi di Site Bakan PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), Senin 11 Mei 2026, pemahaman itu dipertemukan langsung dengan kenyataan di lapangan.
Sekitar 40 mahasiswa Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK) dari program studi Kehutanan, Agroteknologi, dan Ilmu Lingkungan mengikuti Site Visit dan Praktik Lapangan yang dipimpin Wakil Rektor UDK, Hendratno Pasambuna.
Kegiatan itu bukan sekadar kunjungan akademik biasa. Ada upaya mempertemukan dunia pendidikan dengan praktik industri secara langsung, agar mahasiswa tidak membangun kesimpulan hanya dari kejauhan.
Pihak manajemen PT JRBM melalui Manager External Relations, Dwi Hendrawan Senobroto, membuka ruang diskusi yang cukup luas. Mahasiswa diperkenalkan pada sejarah kehadiran perusahaan di Bolaang Mongondow Raya, proses perizinan, hingga bagaimana aktivitas pertambangan dijalankan.
Namun bagian paling penting justru terlihat ketika diskusi berkembang lebih jauh dari sekadar presentasi formal.
Mahasiswa mulai mempertanyakan bagaimana standar keselamatan diterapkan di area tambang, bagaimana reklamasi dilakukan setelah lahan digunakan, seperti apa pengelolaan lingkungan dijalankan, hingga bagaimana perusahaan menjaga hubungan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Di titik itu, praktik pertambangan terlihat bukan sebagai aktivitas tunggal. Ia menyangkut banyak hal sekaligus, keselamatan manusia, pengelolaan lingkungan, teknologi, disiplin kerja, hingga tanggung jawab sosial.
Para peserta juga diajak melihat langsung area operasional dan sejumlah titik reklamasi yang mulai menghijau kembali. Bagi mahasiswa kehutanan dan lingkungan, bagian ini menjadi menarik karena mereka dapat melihat bagaimana lahan pascatambang dipulihkan secara bertahap.
Di sisi lain, keberadaan satwa liar yang masih hidup di sekitar kawasan site ikut memunculkan diskusi tentang keseimbangan antara aktivitas industri dan ekosistem.
Wakil Rektor UDK, Hendratno Pasambuna, menilai pengalaman lapangan seperti ini penting bagi mahasiswa, terutama untuk membangun cara pandang yang lebih utuh terhadap dunia kerja dan industri. Menurutnya, kampus tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan teori.

Mahasiswa juga perlu memahami bagaimana sebuah industri bekerja secara nyata, termasuk tantangan dan tanggung jawab yang menyertainya.
Ia juga mengapresiasi keterbukaan PT JRBM menerima kunjungan akademik tersebut. Menurutnya, hubungan dunia pendidikan dan industri semestinya tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Mahasiswa perlu ruang belajar yang nyata. Dan perusahaan juga bisa menjadi bagian penting dalam proses pengembangan sumber daya manusia di daerah,” ujarnya.
Hendratno turut menyinggung dukungan PT JRBM terhadap pembangunan kampus UDK yang sementara berjalan. Ia berharap hubungan baik itu dapat terus berkembang, termasuk membuka peluang praktik kerja lapangan bagi mahasiswa.
Dari sisi mahasiswa, Fadly Korompot mengaku kunjungan tersebut memberinya perspektif baru tentang dunia pertambangan.
Menurutnya, banyak hal yang selama ini hanya dibayangkan dari luar akhirnya bisa dipahami secara langsung di lapangan. Terutama mengenai standar keselamatan kerja yang diterapkan perusahaan.
“Saya jadi tahu bagaimana proses pertambangan dijalankan dengan sangat memperhatikan safety. Banyak hal yang sebelumnya tidak kami lihat secara langsung,” katanya.
Sementara itu, General Manager External Relations and Security JRBM, Andreas Saragih mengatakan, perusahaan terbuka terhadap kegiatan akademik karena pertambangan selalu membutuhkan ruang dialog dengan dunia pendidikan.
Menurutnya, pemahaman tentang good mining practices penting dikenalkan sejak dini kepada mahasiswa, terutama generasi muda yang nantinya akan terlibat dalam berbagai sektor pembangunan.
“Pertambangan hari ini bukan hanya bicara soal produksi. Ada aspek keselamatan, lingkungan, reklamasi, dan pemberdayaan masyarakat yang harus berjalan bersama,” ujarnya.
Kunjungan itu mungkin berlangsung hanya beberapa jam. Tetapi bagi mahasiswa, pengalaman melihat langsung aktivitas tambang memberi satu pelajaran penting: bahwa memahami sebuah industri tidak cukup dari asumsi atau jarak jauh. Ia perlu dilihat, dipelajari, dan dipahami secara utuh di lapangan.
Peliput: Vicky Tegela






