Oleh: Sigit Pamungkas
WABAH adalah kata yang selalu menggoyahkan keberanian umat manusia. Ketika sebuah epidemi melanda sebuah kota atau negara, harapan langsung sirna dan manusia terpaksa menyerahkan diri untuk menunggu ujung angin berhenti dengan sendirinya. Namun, saat bencana seperti ini, pada manusia lebih banyak yang dikagumi daripada dicela, kata Camus dalam ‘Sampar’.
Awal 2020 lalu, dokter yang pertama kali menemukan virus COVID-19, dinyatakan meninggal karena terinfeksi virus tersebut. Namanya Li, Dr. Lie. Ia adalah seorang dokter mata dan spesialis penglihatan yang mengkhususkan diri di Rumah Sakit Pusat Wuhan, Cina. Ia merupakan lulusan Wuhan University dan sempat bekerja di Xiamen selama tiga tahun sebelum ke Wuhan Central Hospital pada 2014 silam.
Suatu hari Li Wenliang menemukan adanya virus baru dalam diri pasiennya. Ia menyebut penyakit itu “SARS-like virus” dan di diduga mengarah pada kemunculan Disease X. Disebut “like-SARS” karena gejala yang ditimbulkan sang pasien penderita virus aneh ini mirip dengan SARS. Namun, dr Li Wenliang berkesimpulan bahwa pasiennya tidak terkena SARS. Namun ia yakin bahwa pasien yang mendatanginya telah menginfeksi keluarganya.
Alih-alih bertindak mendalami virus mirip-SARS itu, banyak pihak justru mempertanyakan peringatan dr. Li Wenliang, termasuk otoritas setempat. Li pun diinterograsi polisi local. Ia diminta secara paksa untuk mengakui kesalahan diagnosis. Ia bahkan dianggap sebagai public enemy. Li merasa dianiyaya, tetapi dia tetap menerimanya. Dia sadar dia hanya seorang dokter dan bukan seorang pejabat atau sosok yang otoritatif untuk memberikan informasi. Namun ia harus mengerjakan tugasnya sebagai seorang dokter.
Ketika epidemik mulai berjangkit dan makin luas, dr. Lie sebenarnya sedang menunggu kelahiran anak keduanya. Namun ia harus tinggal di suatu tempat tanpa penghuni, tanpa keramaian, dan terpisah dengan keluarganya untuk mengantisipasi agar keluarganya tak tertular, karena ia terinfeksi virus tersebut. Sedih dan kesal terus menghantui Lie. Menghadapi wabah tersebut, ia merasakan bahwa ia telah dihadapkan pada berbagai kegagalan. Semakin disadarinya bahwa perlawanan manusia tidak selalu menghasilkan sesuatu yang seperti diharapkan. Manusia selalu dihadapkan pada keterbatasan-keterbatasannya. Hal itu disadari sepenuhnya, tetapi bukan penghalang untuk terus berjuang.
Di tengah perjuangannya untuk sehat kembali setelah terinfeksi virus tersebut, virus ini terus menyebar ke penjuru China hingga melampaui batas-batas teritorial antar negara. Seandainya otoritas setempat sigap dari awal tuk melirik himbauannya, mungkin virus ini tidak akan tersebar secepat ini. Tapi apa mau dikata, ia hanya seorang dokter bukan pemangku otoritas. Bagaimanapun ini bukan pertama kali dalam sejarah umat manusia, abainya negara dalam menanggapi peringatan dari seorang ahli, peneliti, atau ilmuwan sejatinya sudah kerap terjadi. Sistem perlobian yang rumit serta lobi perusahaan-perusahaan ke pemerintah demi mengamankan bisnis mereka, adalah biang masalahnya.
Setelah berjuang keras melawan virus dan mengedukasi masyarakat bahayanya virus ini, akhirnya dr. Lie tewas juga. Kini ia harus menghadapi kematian yang merupakan refleksi dari keterbatasan manusia. Peristiwa kematian telah dihadapi Lie lewat para pasien yang tak tertolong. Ia banyak menyaksikan saat terakhir seseorang menjelang kematiannya. Baginya, kematian memang merupakan sesuatu yang memang tidak bisa dielakkan. Kematian harus dilawan, walaupun kematian penuh misteri. Dan kini ia harus menghadapi kematiannya.
Menurut pengakuan sang ayah, Li Shuying, kepada BBC, keluarga tak lagi dapat bertemu dengan Li Wenliang sejak terpapar virus tersebut. Bahkan setelah kematiannya, menurut Li Shuying, ia hanya diberi kesempatan untuk menghadiri kremasi sang anak. Sungguh menyedihkan mati seorang diri. Semacam bunyi kehilangan terakhir yang berguguran di udara dan sesudah itu hening. Covid-19 membuat kita sadar bahwa kematian begitu asing, tapi pasti.
Berita kematiannya tersebar. Ia kini dianggap sebagai martir sekaligus simbol kebebasan untuk berbicara. Sikap otoritas setempat dan orang-orang yang menganggap ia hanya “bergosip” kini meminta maaf. Namun sayangnya, semua sudah terlambat. Lambatnya penanganan otoritas setempat menjadikan virus ini berkembang pesat sampai di berbagai penjuru dunia. (Red)