Persepsi Media Terhadap Kepemimpinan AARS

  • Whatsapp

Oleh: Dr. Melki Kumaat, S.Sos, M.Si
Direktur Penelitian & Pengembangan (Litbang) Komunika Sulut Media

A. LATAR BELAKANG, TUJUAN RISET, & METODOLOGI
Untuk memberikan warna baru dalam pengembangan media, Komunika Sulut Media sebagai perusahan induk dari komunikasulut.com, melalui Departemen Litbang telah mencanangkan Program Riset Media Digital berbasis Big Data. Salah satu riset yang diselenggarakan oleh Litbang Komunika Sulut adalah melakukan media monitoring tentang “Persepsi Media terhadap Kepemimpinan Wali Kota Manado Andrei Angouw dan Wakil Wali Kota Manado Richard Sualang. Riset ini merupakan hasil kerjasama antara Litbang Komunika Sulut, Litbang Kebijakan News, dan Litbang ARS Manado.

Ada pun tujuan dari media monitoring ini yaitu untuk mengetahui: Share Media, Coverage Media, Tone pemberitaan, Penyebutan dan Posisi Subjek dalam pemberitaan, Manajemen Kebijakan, serta Isu/Program yang menjadi sorotan media terhadap Kepemimpinan AARS.

Media monitoring dilakukan terhadap 1.176 berita periode 10 Mei – 17 Agustus 2021, pada 9 media online lokal yang ada, yaitu: manado.tribunnews.com, manado.antaranews.com, manadopost.jawapos.com, beritamanado.com, manadoline.com, komentar.id, swarakawanua.id, tomini.news, dan jurnal6.com.

Pengumpulan data dilakukan dengan memanfaatkan Big Data atau jejak digital pemberitaan di masing-masing media. Berita-berita tersebut kemudian di kumpulkan (Crawling), kemudian dilakukan pengkodingan (Coding) secara komputasional. Data yang telah dikumpulkan, selanjutnya di analisis secara kuantitatif kemudian dilanjutkan dengan analisis kualitatif.


B. HASIL TEMUAN
1. Tone
a. Tone Seluruh Pemberitaan

Berdasarkan diagram di atas, maka dapat digambarkan tone seluruh pemberitaan yang dianalisis. Dari semua pemberitaan tersebut didominasi oleh Tone Netral, yaitu 69%. Selanjutnya diikuti oleh Tone Positif 24%. Sedangkan pemberitaan yang memiliki Tone Negatif hanya 7%. Dengan demikian dapat dikatakan, seluruh pemberitaaan yang berkaitan dengan AARS,  dikategorikan Baik.

 

b. Tone Pemberitaan Terhadap Andrei Angouw (AA)

Berdasarkan diagram di atas, maka dapat digambarkan tone pemberitaan terhadap Andrei Angouw (AA). Pemberitaan terhadap Andrei Angouw didominasi oleh Tone Netral, yaitu 75%. Selanjutnya diikuti oleh Tone Positif 19%. Sedangkan pemberitaan yang memiliki Tone Negatif hanya 6%. Dengan demikian dapat dikatakan, tone pemberitaaan terhadap Andrei Angouw, dikategorikan Baik.

 

c. Tone Pemberitaan Terhadap Richard Sualang (RS)

Berdasarkan diagram di atas, maka dapat digambarkan tone pemberitaan terhadap Richard Sualang (RS). Pemberitaan terhadap Richard Sualang didominasi oleh Tone Netral, yaitu 75%. Selanjutnya diikuti oleh Tone Positif 19%. Sedangkan pemberitaan yang memiliki Tone Negatif hanya 6%. Dengan demikian dapat dikatakan, tone pemberitaaan terhadap Richard Sualang, dikategorikan Baik.

 

d. Tone Pemberitaan Terhadap Perangkat Daerah (PD)

Berdasarkan diagram di atas, maka dapat digambarkan tone pemberitaan terhadap Perangkat Daerah (PD). Pemberitaan terhadap Perangkat Daerah didominasi oleh Tone Netral, yaitu 57%. Selanjutnya diikuti oleh Tone Positif 24%. Sedangkan pemberitaan yang memiliki Tone Negatif sebesar 19%. Dari data ini, maka dapat dikatakan bahwa perangkat daerah merupakan penyumbang tone negatif terbesar dalam pemberitaan terkait dengan AARS.

Pemberitaan bernada negatif dari perangkat daerah (PD), memiliki keterkaitan dengan permasalahan pelayanan publik dan pengelolaan keuangan (LHP-BPK, Rendahnya PAD).

 

e. Tone Pemberitaan Terhadap Isu Sampah

Berdasarkan 62 berita yang dianalisis, dapat diketahui tone pemberitaan media terhadap isu sampah. Pemberitaan terhadap isu sampah didominasi oleh Tone Positif, yaitu 58%. Selanjutnya diikuti oleh Tone Netral 37%. Sedangkan pemberitaan yang memiliki Tone Negatif sebesar 5%. Dengan hasil ini, maka dapat dikatakan pemberitaaan terhadap isu sampah, dikategorikan sebagai pemberitaan dengan tone positif yang tinggi.

 

f. Tone Pemberitaan Terhadap Isu Vaksinasi

Berdasarkan 218 berita yang dianalisis, dapat diketahui tone pemberitaan media terhadap isu vaksinasi. Pemberitaan terhadap isu vaksinasi didominasi oleh Tone Netral, yaitu 54%. Selanjutnya diikuti oleh Tone Positif 42%. Sedangkan pemberitaan yang memiliki Tone Negatif sebesar 4%. Dengan hasil ini, maka dapat dikatakan pemberitaaan terhadap isu vaksinasi,  dikategorikan sebagai pemberitaan yang paling banyak diliput,  dengan tone positif yang cukup tinggi.

 

g. Tone Pemberitaan Terhadap Isu Banjir

Berdasarkan 38 berita yang dianalisis, dapat diketahui tone pemberitaan media terhadap isu banjir. Pemberitaan terhadap isu banjir didominasi oleh Tone Netral, yaitu 58%. Selanjutnya diikuti oleh Tone Positif 37%. Sedangkan pemberitaan yang memiliki Tone Negatif sebesar 5%. Dengan hasil ini, maka dapat dikatakan pemberitaaan terhadap isu banjir,  dikategorikan sebagai pemberitaan dengan tone positif yang cukup tinggi.

 

h. Tone Pemberitaan Terhadap Isu Taman Kota

Berdasarkan 22 berita yang dianalisis, dapat diketahui tone pemberitaan media terhadap isu taman kota. Pemberitaan terhadap isu taman kota didominasi oleh Tone Netral, yaitu 65%. Selanjutnya diikuti oleh Tone Positif 30%. Sedangkan pemberitaan yang memiliki Tone Negatif sebesar 5%. Dengan hasil ini, maka dapat dikatakan pemberitaaan terhadap isu taman kota,  dikategorikan sebagai pemberitaan dengan tone positif yang cukup tinggi.

Hasil temuan lain dalam media monitoring ini adalah terkait pemberitaan media terhadap isu pelayanan publik dan pengelolaan keuangan.

Dari 68 berita yang dianalasis, pelayanan publik memiliki tone positif 4%, tone netral 74%, dan tone negatif 22%.

Sementara itu, dari 61 berita tentang pengelolaan keuangan memiliki tone positif 3%, tone netral 82%, tone negatif 15%.

Berdasarkan temuan di atas, maka dapat disebutkan bahwa:
1). Tone positif dalam pemberitaan media lebih disebabkan oleh adanya pernyataan kepuasan dan dukungan nara sumber pemberitaan, maupun hasil interpretasi media terkait penanganan sampah, pelaksanaan vaksinasi, penanganan banjir dan penataan taman kota.
2).  Tone Negatif dominan diberikan oleh permasalahan pelayanan publik dan pengelolaan keuangan. Selain itu, tone negatif umumnya merupakan hasil penilaian terhadap kondisi yang ada pada masa lalu yang diungkapkan dalam pemberitaan.
3). Tone Netral, umumnya dikarenakan media dalam pemberitaan lebih menyoroti kepada hal-hal yang bersifat seremonial.

 

2. Posisi AARS Dalam Pemberitaan

Sebanyak 1.176 pemberitaan yang dianalisis, dominan subjek ditempatkan pada Line/Judul Berita (60%), sedangkan sisanya 40% diletakkan pada Text/Tubuh Berita.

Dari total 1176 berita tersebut, terdapat 436 berita yang menempatkan AARS secara bersama dalam Teks berita (52%), dan pada Line/Judul Berita (48%).

Secara personal, dari 458 berita tentang AA, dominan diposisikan pada Line/Judul Berita (77%), dan dalam Teks berita  (23%).

Sementara itu, dari 134 berita RS sangat dominan diposisikan pada Line/Judul Berita (78%), dan dalam Teks berita (22%).

Sedangkan dari 148 berita tentang perangkat daerah (PD), dominan diposisikan pada Teks berita (72%)  dan  pada Line/Judul Berita (28%).

 

3. Penyebutan AARS Dalam Pemberitaan

Berdasarkan diagram di atas, maka dapat diketahui penyebutan terhadap masing-masing subjek (AA dan RS) dalam pemberitaan. Penyebutan terhadap  AA sebesar 39%. Selanjutnya diikuti oleh AARS 37%. Sedangkan penyebutan terhadap RS hanya 11%. (Keterangan: penyebutan terhadap  perangkat daerah sangat kurang dominan, namun setelah digabungkan didapatkan hasil sebesar 13%)

 

4. Isu/Program AARS 

Pemberitaan media tentang program-program yang terkait dengan Visi-Misi AARS, lebih menyoroti hal-hal yang berkaitan dengan: peningkatan pelayanan publik (7%), penanganan sampah (6%), pembangunan/penataan infrastruktur (5%), sinergitas (4%), penataan taman kota (2%), pengelolaan pasar (2%), penataan lingkungan (2%), peningkatan fasilitas kesehatan (2%), bansos (1%), penyediaan perumahan (1%), peningkatan kualitas pendidikan dan SDM (1%), penyediaan lapangan kerja (1%), penataan pekuburan umum (1%), insentif rohaniawan (1%), pendataan kependudukan (1%), dan peningkatan investasi (1%).

Sementara itu, pemberitaan media terkait program-program yang tidak tertera dalam Visi-Misi AARS,  lebih menyoroti hal-hal yang berkaitan dengan: pelaksanaan vaksinasi (21%), tata kelola pemerintahan (10%), penanganan Covid-19 (6%), pengelolaan keuangan (6%), penguatan ideologi/kerukunan (5%), penanganan banjir (4%), pendataan/pemeliharaan aset (2%), pengembangan olahraga (2%), peningkatan kesejahteraan (1%), pengelolaan air bersih (1%), pengembangan UMKM (1%), pengembangan pariwisata (1%), penerapan digitalisasi (1%), serta pemberdayaan perlindungan perempuan dan anak (1%).

 

5. Manajemen Kebijakan 

Pada kategori manajemen kebijakan, dapat tergambarkan bahwa aspek interaksional (37%), implementasi (28%) dan Monev (18%) merupakan aspek paling tinggi dilakukan oleh AARS. Selanjutnya diikuti oleh aspek perencanaan (11%), pengorganisasian (5%), dan terminasi (1%).

Dari katerogisasi manajemen kebijakan ini, dapat dijadikan gambaran terkait hal-hal yang dilakukan oleh Wali Kota Andrei Angouw dan Wakil Wali Kota Richard Sualang.

Interaksional merupakan aspek yang menggambarkan bagaimana AARS berinteraksi/berkomunikasi dengan berbagai pihak, baik secara internal maupun eksternal.

Secara internal, dapat terlihat dari hubungan antara AARS dengan perangkat daerah yang ada, pada saat  pemberian pengarahan, pemotivasian, maupun melakukan pembahasan terkait arah kebijakan yang akan dilakukan.

Sementara secara eksternal dapat terlihat dari komunikasi atau hubungan antara AARS dengan masyarakat, pemerintah provinsi/pusat, stakeholder, dan sebagainya.

Interaksi yang dilakukan seperti kerjasama (Unsrat dan Politeknik Manado), serta berkoordinasi/bersinergi (Kemendag dan BP2MI).

Secara interaksional, komunikasi yang berlangsung pun berlangsung secara langsung maupun bermedia.

Hal terpenting dari aspek interaksional ini yaitu pada saat aktivitas AARS melakukan turun lapangan dalam rangka melakukan pengenalan masalah secara lebih dekat (contoh: pengenalan masalah terkait sampah, bajir, drainase, taman kota, RSUD Manado, Fasilitas Kesehatan, dll). Termasuk interaksi dengan masyarakat dalam mendegarkan laporan atau keluhan terkait pelayanan publik (contoh kasus: DPMPTSP Manado dan Beberapa Puskesmas di Kota Manado).

Aspek perencanaan, umumnya berkaitan dengan rencana yang akan dilakukan oleh AARS dalam masa kepemimpinannya. Contoh kasus: perencanaan penanganan masalah sampah, banjir, drainase, pelaksanaan vaksinasi, peningkatan pelayanan publik, insentif rohaniawan, pekuburan umum gratis, dan sebagainya.

Aspek pengorganisasian umumnya berkaitan dengan pergantian pejabat (rolling) dan pergantian para ketua lingkungan, Direksi PD Pasar, Direksi PDAM.

Aspek implementasi didasarkan pada tindakan yang diambil oleh AARS dalam menyelesaikan suatu masalah.

Tingginya aspek implementasi pada media monitoring ini terletak pada pemberitaan-pemberitaan yang berkaitan dengan Pelaksanaan Vaksinasi sebagai salah satu upaya dalam penanganan Covid-19, penanganan masalah sampah, penanganan masalah banjir, penataan drainase, pemasangan lampu penerangan jalan, penataan taman kota.

Begitu pula dengan aspek Monitoring dan Evaluasi (Monev). Tingginya aspek monev pada media monitoring ini merupakan konsekuensi dari pelaksanaan atau implementasi terhadap kebijakan yang ada.

Umumnya, monev dilakukan terhadap hal-hal yang ada dalam aspek implementasi, seperti: pelaksanaan vaksinasi sebagai salah satu upaya dalam penanganan Covid-19, penanganan masalah sampah, penanganan masalah banjir, penataan drainase, pemasangan lampu penerangan jalan, penataan taman kota.

C. Kesimpulan
Berdasarkan media monitoring yang dilakukan terhadap 1.176 berita yang di analisis, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi media terhadap kepemimpinan AARS , khususnya pada periode 10 Mei – 17 Agustus 2021, secara keseluruhan dikategorikan Baik dan dominan Positif, pada aspek: Tone, Penyebutan dan Penempatan subjek, Penangangan isu/program dan Manajemen kebijakan.

Dari 1.176 berita yang dianalisis terhadap 9 media online yang ada, dominan memiliki kesamaan terhadap fokus  pemberitaan. Adapun perbedaan yang paling nampak adalah terkait kuantitas dan kualitas dalam pemberitaan.

Media monitoring ini setidaknya mampu memberikan gambaran informasi tentang arah tindakan Pemerintah Kota Manado di bawah kepemimpinan Wali Kota Manado Andrei Angouw dan Wakil Wali Kota Manado Richard Sualang terhadap berbagai permasalahan yang ada.  Terlebih dari itu, hasil media monitoring ini dapat dijadikan sebagai langkah awal dalam penyusunan perencanaan dan strategi komunikasi kebijakan di masa mendatang yang lebih baik.

Pos terkait